Senin, 06 Agustus 2012

the invisible mumang

catatan: mumang aka Pening aka puyeng aka dizzy

Meskipun sekarang ini Era Globalisasi dan keterbukaan informasi seperti yang selalu disebut dan dituliskan dalam paragraf pembuka proposal atau kerangka acuan kegiatan apapun sejak masa saya masih suka mundar mandir naik Robur alias Mercedes Benz berjendela banyak yang secara umum disebut sebagai Bus Kota. Dari Mulai tarifnya cuma 50 rupiah/trip dari Kota/Mesjid Raya ke Darussalam/Kampus lalu jadi 100 rupiah kemudian 500 rupiah dan akhirnya Robur tidak beroperasi lagi entah dengan alasan apa (bisa jadi karena semua armadanya yang biasa ngetem di Halaman Belakang Kantor Gubernur Aceh apabila rit-nya selesai paling telat jam 6 Sore itu rusak parah terkena terjangan ombak besar aka Tsunami pada 26 Desember 2004).

kalimat "Era Globalisasi dan Keterbukaan informasi + Teknologi" itu masih sering saya temukan di beberapa artikel dan kerangka acuan kegiatan pasca Tsunami. well.. memang ada sedikit tambahan yaitu "setelah Bencana Gempa 8,9 pada skala Richter dan Tsunami yang memporak porandakan beberapa wilayah Aceh dan menyebabkan lebih dari 120 ribu orang tewas dan 500 ribu kehilangan asetnya". sekarang ada lagi yaitu : "pasca ditandatanganinya kesepakatan damai antara RI dan GAM di Helsinki, Finlandia yang lebih dikenal dengan MoU Helsinki dan lahirnya UUPA aka Undang Undang Pemerintahan Aceh yaitu UU No. 11/2006, Aceh yang telah melewati masa konflik selama lebih dari 30 tahun kini sedang memasuki masa transisi".

mudah-mudahan saja dengan berbagai kehebohan menjelang pelaksanaan Pemilukada dan serentetan peristiwa penembakan terhadap orang-orang yg berasal dari etnis Jawa pada Akhir Tahun lalu dan Awal tahun ini, tidak ada lagi tambahan kalimat dalam paragraf Latar Belakang yang menunjukkan bahwa Aceh ini adalah daerah yang benar-benar istimewa dengan konflik bersenjata dan sekarang konflik Politik, dari Bencana Alam terbesar sepanjang Millenia menjadi Bencana Politik paling norak sejagat.

kenapa kok saya bilang bencana paling norak?
menurut saya, tidak ada di dunia ini ditemukan alasan bahwa konflik regulasi merupakan alasan terjadinya PEMILUKADA, karena seingat saya pernah disebutkan dalam Undang Undang Politik dan artikel apa yang mana saya sudah lupa judulnya, tapi ditulis oleh para ahli yang namanya sering disebut karena tulisan dan pendapatnya dijadikan kutipan oleh para pengamat hebat sampai pengamat berkelas penyanyi dangdut dari pesta ke pesta, bahwa yang menyebabkan sebuah momentum politik seperti PEMILUKADA itu bisa ditunda adalah : Bencana Alam, Kerusuhan, Gangguan Keamanan dan atau Gangguan lain di seluruh atau sebagian wilayah pemilu. Gangguan lain yang dimaksud adalah terhambatnya Anggaran (seperti tertulis dalam pasal 149 peraturan pemerintah No. 6 Tahun 2005).

Sedangkan yang terjadi di Aceh adalah apa yang disebut oleh sejumlah kalangan dengan "KONFLIK REGULASI" waah, kalau ini menyebabkan PEMILUKADA di Aceh tertunda, maka peraturan pemerintah itu harus direvisi dong?. Hebat kan Aceh??

saya bukanlah seorang Sarjan Hukum atau Ahli Tata Negara yang memahami seluk beluk hukum di Indonesia. Menurut pemikiran saya dan bertanya pada sejumlah orang yang sudah mendapatkan ijazah dan diakui sebagai Ahli, istilah konflik regulasi baru sekarang ditemukan. meskipun sudah bukan hal yang aneh apabila di Negara Tercinta Indonesia Raya (MERDEKA.. MERDEKA) ini ada banyak sekali aturan hukum yang tumpang tindih satu sama lainnya dan interpretasinya sangat beragam sesuai dengan kemampuan dan kepentingan orang yang memanfaatkannya. padahal, mustinya dalam setiap aturan resmi yang dikeluarkan NEGARA terutama Undang Undang itu, tidak boleh sama sekali ada Bias dan multi tafsir.

Pembahasan ini terlalu serius kah?
bisa jadi demikian bisa jadi juga tidak.
semuanya diawali dari Mumang dengan situasi sosial dan politik di Aceh saat ini yang mulai berpindah ke arah yang semakin serius dan membingungkan banyak masyarakat. memang ada banyak nada yang bisa dimainkan, cara memainkannya pun bisa bermacam-macam. seperti hal nya orang-orang berbicara mengenai situasi Aceh sekarang. Namun semua nada yang mereka keluarkan sama sekali tidak harmonis dan tidak sedap untuk dinikmati apalagi dihayati untuk meningkatkan kesejahteraan.

Pada saat sebagian kalangan terus menjalankan proses penyelenggaraan Pemilukada, baik sebagai Komite Independen Pemilihan, Pengawas Pemilu, Calon yang bertarung merebut suara rakyat *yg kemudian akan kembali dikhianatinya atas nama aturan dan kesejahteraan segolongan orang*, Tim Sukses, Tukang Cetak/Sablon Spanduk, kartu, stiker, Kalender, Baliho, Media Massa, LSM yg menjalankan program Voters Education, Pemantauan dan sebagainya dan sebagainya itu, di bagian lain ada sebagian kalangan yang tetap bersikeras menunda pelaksanaan PEMILUKADA dengan berbagai alasan. semua proses yang sudah berlarut-larut sepanjang tahun 2011 itu menguras habis energi setiap orang yang berkonflik *jadi bukan konflik regulasi* kepentingan dan ambisinya sehingga mengabaikan urusan dan kepentingan kurang lebih 4,2 Juta Rakyat Aceh yang lainnya.

Aceh merupakan kantong kemiskinan paling tinggi se-Sumatera kata kepala Badan Pusat Statistik Aceh. padahal pada 2010 lalu, mereka juga yang menyebutkan bahwa angka kemiskinan di Aceh sudah menurun cukup signifikan. sementara dimana-mana saya melihat betapa sulitnya orang mendapatkan pekerjaan dan menafkahi keluarganya. meskipun tak bisa ditampik kenyataan bahwa Mobil Ford laku keras di Aceh dan menguntungkan pengusaha ATPM-nya. Tahun 2012, Aceh juga akan menerima dana APBN hingga 27 Trilyun Rupiah. Dana yang tidak sedikit untuk mengurusi 4,2 Juta warganya agar menjadi lebih sejahtera (bukan cuma pejabatnya saja yang sejahtera).

saya Mumang...
saya tidak mengerti politik yang sedang berlangsung di Aceh hari ini.
saya hanya tidak mau Aceh kembali pada masa darurat.
saya juga tidak mau orang berpikir bahwa Aceh ini memang Istimewa karena selalu intim dengan urusan konflik, meskipun sudah mengalami bencana dahsyat.
saya malu, bahwa konflik internal dalam masyarakat Aceh (terutama antar eksekutif dan legislatifnya) menyebabkan Nanggroe Darussalam ini mundur dan kembali terabaikan.

saya Mumamng....
tapi tidak bisa menyatakannya dengan jelas
apalagi mencari obat Mumang itu ada dimana?
saya hanya berharap, para pihak yang berkonflik mau berhenti memaksakan kehendak dan ambisinya sendiri dengan mengatasnamakan jabatan publik yang dimilikinya serta mengatasnamakan rakyat yang Mumang seperti saya ini. Kami butuh kepastian sikap dan keberpihakan para pihak pada kebenaran dan rakyat.

saya masih bisa tertawa dan becanda, seperti halnya orang-orang masih terus meramaikan kedai kopi ketimbang masjid-masjid. tapi saya yakin, tidak sedikit dari mereka yang menderita Mumang tak terlihat. The Invisible Mumang yang menjerumuskan kita pada kegilaan.


4 Januari 2012

Tidak ada komentar: