Senin, 06 Agustus 2012

terngiang

Setiap kali melakukan perjalanan antar kota, naik travel atau naik bis. Trip Pagi, Siang, Sore selalu tak jadi masalah. Tetapi Trip malam yang paling asyik itu, seringkali jadi masalah besar antara aku dan Abee.
Abee ngga suka aku melakukan perjalanan darat di malam hari. saat itu mungkin dia belum tahu bagaimana kondisi jalanan di Aceh. Setiap kali aku melakukan perjalanan itu sendiri, aku sering membayangkan bagaimana perjalanan itu rasanya apabila Abee jadi teman seperjalanan. akankah rute yang berjarak 227 KM (BNA-MBO) dengan masa tempuh sekitar 4-5 jam terasa lebih lama atau lebih cepat? terasa... bukan jadinya. atau rute 346 KM (BNA-LSM) dengan masa tempuh sekitar 5-6 jam itu akan terasa lebih lama atau lebih cepat?

aahh.. tidak perlu main tebak-tebakan, kan? apalagi kalau sudah bicara soal rasa. jika Teman seperjalananmu adalah orang yang engkau cintai dan rindukan setiap saat, maka berapapun jarak tempuhnya tidak akan jadi masalah. tapi bila engkau seperjalanan dengan orang yang membuatmu merasa tidak nyaman, perjalanan akan terasa sangat lama dan kalau mungkin, engkau akan memilih turun di tengah perjalanan lalu pindah ke mobil atau angkutan lain.  hehehhe... benar kan?

Jujur saja, aku sering membayangkan akan seperti apa perjalananku bersama Abee suatu saat nanti. dan ketika tiba waktunya aku menjadi teman seperjalanannya, maka.. boleh kukatakan 90% yang kubayangkan adalah sama. Bahwa dia akan membuatku tiba-tiba jadi invertebrata alias hewan tanpa tulang belakang. kok??

Tentu tak perlu lah kujelaskan apa yang membuatku merasa jadi golongan invertebrata saat bersamanya, kan? ahh sudahlah.. aku jadi malu mengakuinya. aku tak mengerti, mustinya perjalanan itu ditempuh dalam waktu paling telat 5 jam, malah molor jadi 6,5 jam. yaaa.. wajar juga siyh, karena kita beberapa kali berhenti di jalan untuk menikmati pemandangan laut pantai barat yang eksotis, makan siang dan rehat minum kopi. apakah perjalanan itu layak dikenang?

aku tidak bisa ceritakan banyak, hanya saja masih terngiang di telingaku, saat aku letakkan kepalaku diatas bantal dalam pangkuannya, dan jari-jarinya menyentuh keningku sambil menyanyikan shalawat. aku terharu dan masih menitikkan air mata sampai detik ini. atau bagaimana senangnya aku ketika Abee betah sekali tidur beralas bantal dalam pangkuanku, sambil jemariku membelai pelipis dan kepalanya (bukan rambut, karena rambutnya dreadlock pasti ndak berasa apa-apa).

Wah, adegan itu sebenarnya tidak boleh terjadi kan? karena apapun ceritanya, status hubungan kami sama sekali belum halal. dan kurasa, memanglah rindu dan cinta bisa menjadi racun sekaligus madu yang memabukkan apabila berkolaborasi tidak pada saatnya. aku bisa melupakan adegan itu sementara waktu, namun sama sekali tidak mampu melupakan nyanyian-nya saat membelai keningku. nyanyian shalawat yang kurasa syahdu menembus hingga ke bilik jantung, dan nyanyian "airmata" yang membuatku menangis tersedu.

"bagaimanapun aku harus kembali, walau berat aku rasa kau mengerti, simpanlah rindumu jadikan telaga, agar tak usai mimpi panjang ini, air mata..." aku mengeratkan pelukanku saat syair-syair itu meluncur dari bibirnya, membelai gendang telingaku, merasuk jiwa dan akhirnya air mataku benar-benar menjadi deras dan membuat kaosnya (sebenarnya itu kaos bekas kupakai yang dimintainya agar terasa seperti dalam pelukanku...hahahaha) agak basah.

dan aku seperti menderita cacingan kuping, suaranya saat melafalkan shalawat dan lagu itu, kerap muncul disaat aku sangat merindukannya.


6 Januari 2012

Tidak ada komentar: