Pemilukada di Aceh masih kisruh jua
masih menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi
sekali lagi KIP dituntut ke MK, tempohari oleh Dirjen Otda Depdagri
kali
ini oleh Mualim aka Muzakkir Manaf, eks panglima GAM yang disukai para
wanita *kecuali saya* karena berwajah tampan dan kharismatik katanya.
pernyataan
lain muncul dari kepolisian, yang bilang bahwa pilkada ndak perlu
ditunda, tetap saja pada 16 februari 2012, tapi buka peluang lagi untuk
calon kontestan dari Partai Aceh. meskipun para calon yang lain sudah
mendapatkan nomor urut dan sedang bersiap-siap untuk melakukan kampanye
dalam dan luar ruangan pada 30 januari - 12 Februari 2012. padahal yang
judulnya spanduk serta baliho bergambar wajah para kontestan itu sudah
menjamur dimana-mana sejak lama.
lebih dari 150 pasangan calon
akan memperebutkan 1 kursi Aceh 1-2 dan 23 jabatan sebagai
bupati/walikota. ramai kan? pasti seru.. di Meulaboh saja ada 12
kontestan (sayangnya tak seorangpun perempuan) begitu pun di Aceh utara
dan Bener Meriah (tapi disana ada kontestan perempuan yang perlu
diacungi jempol karena keberanian dan kekuatannya mampu serta mau ikut
bersaing untuk perubahan).
seorang kawanku bilang, kita diam saja
lah apapun pernyataan dan polemik di media massa tentang kisruh pilkada
aceh ini. karena makin banyak kita bicara, makin aneh-aneh saja
pernyataan dan polemik itu menggila.
Sejenak melupakan pilkada,
hari ini ribuan jama'ah shalat jum'at di Mesjid Raya Baiturrahman Banda
Aceh, menandatangani spanduk petisi penolakan pembangunan hotel Best
western yang dengar-dengar akan dibangun sekitar 50 meter tak sampai
dari Mesjid Raya yang merupakan Landmark kota. Hotel itu, nantinya akan
bertingkat 36 yang otomatis lebih tinggi daripada menara Mesjid.
hampir
semua orang kemudian memanfaatkan hal tersebut dan mengkaitkannya
dengan situasi Politik. salah satunya mungkin untuk menjatuhkan walikota
incumbent yang nyalon lagi dengan pasangan yang sama periode ini.
waduh... jadi tidak sehat. mustinya kan dibedakan yaa?
bakal
lokasi hotel itu, sekarang adalah sebuah bangunan tua tak terpakai yang
dulunya bernama Geunta Plaza. di salah satu ruangan di lantai 3 bangunan
itu dulu, aku pernah sering datangi karena digunakan sebagai kantor FP
HAM yang mengorganisir mahasiswa dan masyarakat yang mau melakukan
pendataan korban pelanggaran HAM pada masa DOM (sekitar tahun 1998). aku
juga pernah tinggal di seberang gedung tersebut, ngekos selama kurang
lebih 5 tahun dan jadi warga kelurahan Kampung Baru itu.
pernah
beberapa tahun lalu, sebuah hotel akan dibangun di bekas Hotel Aceh yang
berada berseberangan dengan gedung ex geunta plaza itu. Namun berbagai
penolakan terjadi sehingga akhirnya lokasi itu kini hanya dibiarkan
kosong tanpa bangunan kecuali beberapa tonggak tersisa yang sedianya
menjadi tapak hotel. bagaimana dengan hotel Aceh yang bersejarah? yang
pernah menjadi tempat menginap Bung Karno ketika datang merayu Abu Daud
Beureu'eh agar masyarakat Aceh mau melakukan sesuatu demi terbentuknya
Negara Indonesia Raya ini? Hangus terbakar... hancur terbengkalai... tak
bersisa kecuali kenangan dalam ingatan.
oohh Aceh-ku sayang nan malang
tak henti-hentinya meributkan sesuatu yang tak kupahami apa intinya
yang jelas, orang berebut memegang kuasa karena kemolekan dan kejelitaan alam-MU
yang
kutahu, orang pandai berebut ingin berkuasa dan merasa diri mereka yang
paling tahu bagaimana membuat Aceh menjadi lebih baik dan semakin
indah.
yang kuinginkan hanyalah sebuah Nanggroe yang Damai
dimana orang-orang bisa datang dan pergi, mencari nafkah tanpa ketakutan menjadi korban penembakan orang tak berguna.
yang
kuinginkan adalah Nanggroe yang Damai, darussalam seperti surga dengan
penerapan Syari'at Islam yang memberikan kedamaian dan keadilan bagi
seluruh umat manusia, karena Islam itu Rahmatan lil'alamin.
13 Januari 2012
Senin, 06 Agustus 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar