Senin, 06 Agustus 2012

Mungkin Kita Nggak Peduli

bertahun-tahun ikut shalat berjama'ah khususnya shalat Tharaweh, aku selalu menemukan fenomena dan masalah yang sama saat shaf untuk kaum perempuan disusun.

sepertinya sedikit saja dari kaumku ini yang terbiasa ikut shalat berjama'ah, sehingga kesulitan betul saat pengaturan shaf. shaf harus di mulai dari tengah baru diisi sisi kiri dan kanan-nya kemudian. apabila harus bergeser, maka bukan bergeser ke samping melainkan merapat ke bagian tengah.

aku pernah membaca sebuah hadist *lupa persisnya* bahwa sebaik-baiknya shaf untuk kaum laki-laki adalah yang paling depan dekat dengan imam. sedangkan sebaik-baiknya shaf bagi kaum perempuan adalah yang paling belakang.

tapi tampaknya ada hubungannya dengan soal arsitektur mesjid juga. dulu waktu shalat berjamaah di Meunasah kemudian Mesjid dan akhirnya jadi Meunasah lagi di Jalan Darussalam *aku bangga karena yang bikin gambarnya adalah bapakku* pintu mesjid dibuat 3 untuk lantai 1-nya *hanya digunakan apabila lantai 2 penuh* sedangkan lantai 2 punya 2 pintu masuk kiri dan kanan yang memungkinkan kaum perempuan membuat 1 shaf dekat dinding. shaf ini selalu jadi rebutan para ibu-ibu. tidak jarang kalau lagi ramai jama'ah, anak perempuan atau gadis seperti aku --saat itu berusia 13-18 tahun-- diusir alias pindah shaf ke bagian depan oleh ibu-ibu yang lebih tua itu.

pada saat sepi jama'ah, mereka tidak memaksa diri harus tetap bertahan di shaf tersebut, melainkan maju sampai batas tertentu sehingga jarak dengan shaf laki-laki yang cuma satu shaf itu tidak terlalu jauh *paling tidak di bagian tengah meunasah* jadi susunan shafnya begini:

perempuan dewasa paling belakang, lalu shaf anak-anak remaja dan paling depan anak-anak kecil perempuan. beda jauh dengan shaf yang sering aku temui sekarang di banyak masjid di kota Banda Aceh. dimana kaum perempuan terpaksa mengisi shaf paling depan sedangkan anak-anak perempuan yang kecil kadang menyusup di tengah shaf orang dewasa atau dibiarkan berada di shaf paling belakang.

menurut logikaku, alangkah baiknya apabila susunan shaf tersebut seperti masa kecilku, jadi kita bisa sekalian shalat dan mengawasi anak-anak *seperti biasanya tugas perempuan lah* namun... yang kutemui sungguh membingungkan. kaumku lebih suka memaksa jama'ah dari shaf belakang untuk masuk ke shaf depan ketimbang bergeser dari tepi ke tengah. saat datang sebelum shalat tiba, kaumku lebih suka duduk menyebar atau membuat barisan sendiri ketimbang mengikuti susunan shaf yang sudah lebih awal ada.

aku jadi penasaran, mereka tidak paham atau ini lah cermin betapa egoisnya kita bahkan pada saat hendak shalat berjama'ah pun? apakah dengan merapatkan shaf dan sedikit bergerak menggeser sajadah maka itu berarti harga diri sudah runtuh dan merasa dianggap jadi pengikut? apakah dengan meneruskan shaf sampai sempurna pada barisan yang sudah ada berarti kita menjadi tidak hebat dan rendah diri?
atau bisa jadi KITA MEMANG TIDAK PEDULI??

Wallahu 'alam bissawab. aku tidak pernah ikut pengajian ibu-ibu, aku tidak pernah belajar kitab di dayah atau mengangkat guru-guru lain setelah belajar dasar-dasarnya pada almarhum 3 Guru mengaji yang luar biasa. mengajar secara kekeluargaan tanpa kekerasan, menjawab semua pertanyaan dengan baik dan menenangkan tanpa meninggalkan kebenaran. bukan hanya soal huruf hijaiyyah, namun juga ilmu akidah, akhlak dan fiqih sekedarnya, namun menjadi dasar pegangan hingga saat ini.

Alhamdulillah ya ALLAH, aku mendapat kesempatan menjadi murid dari Almarhum Ayah *lupa nama aslinya karena terbiasa memanggilnya begitu*, Almarhum Ummi *lupa juga namanya, karena terbiasanya memanggilnya begitu* dan Almarhum TGK Ismail Assaudy yang mengajariku sedikit tentang tata bahasa arab dan cerita tentang nabi-nabi.

ada banyak guru lain yang hadir setelah mereka berdua dalam kehidupanku, yang menyumbangkan tidak sedikit ilmu untuk kupelajari atau menyumbangkan sedikit rasa penasaran sehingga membuatku terus  mencari. aku belumlah sempurna sebagai manusia, aku belum bisa mengajak kaumku untuk menyusun shaf dengan baik, namun aku berharap aku tidak akan berhenti mengajaknya sedikit demi sedikit. tanpa ilmu, mungkin aku tidak akan didengarkan orang, karena itu harus kutambah dulu ilmuku dengan belajar lebih banyak lagi, menunjukkan keteladanan pula bila mungkin. Insya Allah.

Tidak ada komentar: