bertahun-tahun ikut shalat
berjama'ah khususnya shalat Tharaweh, aku selalu menemukan fenomena dan
masalah yang sama saat shaf untuk kaum perempuan disusun.
sepertinya
sedikit saja dari kaumku ini yang terbiasa ikut shalat berjama'ah,
sehingga kesulitan betul saat pengaturan shaf. shaf harus di mulai dari
tengah baru diisi sisi kiri dan kanan-nya kemudian. apabila harus
bergeser, maka bukan bergeser ke samping melainkan merapat ke bagian
tengah.
aku pernah membaca sebuah hadist *lupa persisnya* bahwa
sebaik-baiknya shaf untuk kaum laki-laki adalah yang paling depan dekat
dengan imam. sedangkan sebaik-baiknya shaf bagi kaum perempuan adalah
yang paling belakang.
tapi tampaknya ada hubungannya dengan soal
arsitektur mesjid juga. dulu waktu shalat berjamaah di Meunasah
kemudian Mesjid dan akhirnya jadi Meunasah lagi di Jalan Darussalam *aku
bangga karena yang bikin gambarnya adalah bapakku* pintu mesjid dibuat 3
untuk lantai 1-nya *hanya digunakan apabila lantai 2 penuh* sedangkan
lantai 2 punya 2 pintu masuk kiri dan kanan yang memungkinkan kaum
perempuan membuat 1 shaf dekat dinding. shaf ini selalu jadi rebutan
para ibu-ibu. tidak jarang kalau lagi ramai jama'ah, anak perempuan atau
gadis seperti aku --saat itu berusia 13-18 tahun-- diusir alias pindah
shaf ke bagian depan oleh ibu-ibu yang lebih tua itu.
pada saat
sepi jama'ah, mereka tidak memaksa diri harus tetap bertahan di shaf
tersebut, melainkan maju sampai batas tertentu sehingga jarak dengan
shaf laki-laki yang cuma satu shaf itu tidak terlalu jauh *paling tidak
di bagian tengah meunasah* jadi susunan shafnya begini:
perempuan
dewasa paling belakang, lalu shaf anak-anak remaja dan paling depan
anak-anak kecil perempuan. beda jauh dengan shaf yang sering aku temui
sekarang di banyak masjid di kota Banda Aceh. dimana kaum perempuan
terpaksa mengisi shaf paling depan sedangkan anak-anak perempuan yang
kecil kadang menyusup di tengah shaf orang dewasa atau dibiarkan berada
di shaf paling belakang.
menurut logikaku, alangkah baiknya
apabila susunan shaf tersebut seperti masa kecilku, jadi kita bisa
sekalian shalat dan mengawasi anak-anak *seperti biasanya tugas
perempuan lah* namun... yang kutemui sungguh membingungkan. kaumku lebih
suka memaksa jama'ah dari shaf belakang untuk masuk ke shaf depan
ketimbang bergeser dari tepi ke tengah. saat datang sebelum shalat tiba,
kaumku lebih suka duduk menyebar atau membuat barisan sendiri ketimbang
mengikuti susunan shaf yang sudah lebih awal ada.
aku jadi
penasaran, mereka tidak paham atau ini lah cermin betapa egoisnya kita
bahkan pada saat hendak shalat berjama'ah pun? apakah dengan merapatkan
shaf dan sedikit bergerak menggeser sajadah maka itu berarti harga diri
sudah runtuh dan merasa dianggap jadi pengikut? apakah dengan meneruskan
shaf sampai sempurna pada barisan yang sudah ada berarti kita menjadi
tidak hebat dan rendah diri?
atau bisa jadi KITA MEMANG TIDAK PEDULI??
Wallahu
'alam bissawab. aku tidak pernah ikut pengajian ibu-ibu, aku tidak
pernah belajar kitab di dayah atau mengangkat guru-guru lain setelah
belajar dasar-dasarnya pada almarhum 3 Guru mengaji yang luar biasa.
mengajar secara kekeluargaan tanpa kekerasan, menjawab semua pertanyaan
dengan baik dan menenangkan tanpa meninggalkan kebenaran. bukan hanya
soal huruf hijaiyyah, namun juga ilmu akidah, akhlak dan fiqih
sekedarnya, namun menjadi dasar pegangan hingga saat ini.
Alhamdulillah
ya ALLAH, aku mendapat kesempatan menjadi murid dari Almarhum Ayah
*lupa nama aslinya karena terbiasa memanggilnya begitu*, Almarhum Ummi
*lupa juga namanya, karena terbiasanya memanggilnya begitu* dan Almarhum
TGK Ismail Assaudy yang mengajariku sedikit tentang tata bahasa arab
dan cerita tentang nabi-nabi.
ada banyak guru lain yang hadir
setelah mereka berdua dalam kehidupanku, yang menyumbangkan tidak
sedikit ilmu untuk kupelajari atau menyumbangkan sedikit rasa penasaran
sehingga membuatku terus mencari. aku belumlah sempurna sebagai
manusia, aku belum bisa mengajak kaumku untuk menyusun shaf dengan baik,
namun aku berharap aku tidak akan berhenti mengajaknya sedikit demi
sedikit. tanpa ilmu, mungkin aku tidak akan didengarkan orang, karena
itu harus kutambah dulu ilmuku dengan belajar lebih banyak lagi,
menunjukkan keteladanan pula bila mungkin. Insya Allah.
Senin, 06 Agustus 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar