aku bukan warga kota banda aceh apabila syarat menjadi warganya adalah memiliki kartu tanda penduduk alias KTP.
aku bukanlah orang yang lahir besar di Banda Aceh, apabila itu adalah syarat untuk mencintai kota ini.
aku hanyalah orang yang menghabiskan 18 tahun masa hidupku di kota ini, pindah dari sana ke sini, menelusuri jalanan kotanya dengan kaki dan kendaraan lainnya.
aku mencintai kota ini,
seperti aku mencintai darahku sendiri
karena itu, ketika temanku si dendy menunjukkan padaku gambar sebuah bangunan purbakala di pusat kota yang telah menjadi korban vandalisme orang terpelajar yang sedang belajar dan tak paham arti "sejarah bangsa".
aku meninggalkan kota Meulaboh dan tiba dini hari di kota banda aceh setelah tertahan satu jam lebih di tengah pendakian gunung Kulu akibat mogoknya sebuah truk fuso dan intercooler yg saling berhadapan di tengah jalan sempit dengan jurang yang dalam di salah satu sisi.
kulakukan semua itu, demi cintaku pada kota ini.
kulakukan demi cintaku pada sejarah bangsa ini
dan pada 21 Januari 2012, dengan beberapa teman yang sudah saling sepakat tidak sekedar berdo'a dan menyumbangkan uang untuk melakukan aksi pembersihan bangunan tua itu dari kekejaman manusia muda yang tak tahu artinya menghargai sejarah bangsa itu, kami bekerja sepanjang hari demi mengembalikan tampilan indah bangunan itu lagi.
sebuah pintu yang entah bagaimana ceritanya, kini malah dikurung ditengah taman yang diberi lantai marmer dan terpisah dari lansekap taman putroe Phang yang seharusnya menjadi gerbang menuju gunongan tempat sang putroe mandi.
sebuah pintu yang hanya menjadi sebuah situs purbakala ditengah taman ghairah : taj mahalnya Aceh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar