Senin, 06 Agustus 2012

dari puasa menuju akhirat

sebenarnya kemarin sudah kusadari tentang perbedaan manajemen hubungan aku dan abee dibandingkan dengan pasangan lain. tapi, tetap saja aku ingin tahu bagaimana pandangannya. keingintahuan itu muncul setelah kuperhatikan seorang kawan tetap bisa ngobrol asyik dan serius dengan tunangannya bahkan di siang hari bulan puasa pun.

jadi kutanyakan pada abee, kenapa kami tidak bisa sms-an atau ngobrol di siang hari, sambil menambahkan "aku pun bingung kalau kita telpo-telponan di siang hari, mau ngobrolin apa? kan aku kerja...." Abee lalu menambahkan dengan manis, daripada jadi makruh puasanya karena tiba-tiba pengen mesra-mesraan sementara hukumnya jelas dilarang...

waaahh.. alasannya begitu!! aku jadi paham sekarang... benar juga yaa? aku pasti akan mudah terpancing kekesalan apabila abee becanda melulu atau jaid sensitif karena kondisinya sedang lapar atau kurang istirahat...hehehehe jadi malu.


berdasarkan pertimbangan dair percakapan diatas, aku kemudian mengusulkan agar pernikahan kami sebaiknya tidak dilaksanakan berdekatan atau sebelum bulan ramadhan. karena akan sangat sulit bagi kami tetap menjaga puasa apabila terus berdekatan... kata abee siy, disitu letak tantangannya orang berpuasa,yaitu kemampuan untuk saling menjaga dan mencari pahala harus lah diutamakan.

Abee bilang, kita akan ijab kabul begitu Allah SWT memberikan ijin dan memudahkan kita soal pembiayaan dan pengaturan waktunya. jadi tidak perlu berpatokan pada bulan ramadhan sebelum dan sesudahnya...begitu. perbincangan lalu ditingkatkan ke masalah lebih serius yang belakangan ini sering terpikir olehku. yaitu tentang apakah nanti di akhirat, aku akan tetap berpasangan dengan abee? atau akankah dia mengenaliku saat kami berkumpul di padang mahsyar nanti? wallahu alam bissawab. yang kubaca dalam Al Qur'an hanyalah betapa sendirinya manusia di padang mahsyar nanti dalam kumpulan milyaran ummat manusia menanti saat dihisab.

terus terang saja, abee tidak berpendapat karena menurutnya aku bisa membaca semuanya di Al Qur'an, terutama dalam surat Yasin. bukankah seharusnya perjumpaan yang kunanti kan adalah pertemuan dengan ALLAH SWT??
tanpa bertanya lebih lanjut, kubiarkan diriku hanyut dalam rasa haru... yaaa!! membayangkan RAsulullah Muhammad SAW menantikan kedatanganku sebagai ummatnya di ujung jembatan Sidratal Munthaha saja aku sudah merinding, terharu dan merindunya lebih dari biasa. bagaimana lagi bila aku bertemu ALLAH SWT? kenapa aku musti mencemaskan kehidupan sesudah penghisaban nanti akan bersama abee atau tidak?? yang harusnya kucemaskan adalah bagaimana aku bisa melewati Sidratal Munthaha dan bertemu Rasulullah!!

Hasbunallah wani'mal wakiil...
hanya Engkaulah penolongku ya Allah..

Tidak ada komentar: