Ma memelukku sangat erat malam itu, tubuhnya bergetar, bukan menggigil kedinginan. kehangatan yang kurasakan lewat pelukannya kini berubah menjadi rasa gerah. di luar hujan turun sangat deras, angin menderu-deru ribut meningkahi suara air yang jatuh di bumbung rumah yang terbat dari seng. makin deras hujan, makin keras juga getaran dari tubuh Ma. aku menggeliat, hendak melepaskan diri. tapi Ma makin mengeratkan pelukannya. aku hampir-hampir tak bisa bernafas. kucengkeramkan jari-jariku ke lengannya dengan geram. Ma tersentak, melepaskan aku dan bangun dari tidurnya. matanya nyalang menatap sekeliling kamar kami yang sempit. dadanya turun naik, nafasnya terengah-engah seperti orang habis berlari keliling desa.
dalam cahaya kamar yang remang, mata Ma berkilat ketakutan, ia menatap pintu kamar yang tak berdaun seperti orang melihat hantu saja. kusentuh pundak Ma pelan, ia menoleh dan menatapku dengan pandangan asing, seolah ia tak mengenali darah dagingnya sendiri ini. aku tak berani bergerak, aku juga takut dengan reaksi Ma. nafas Ma mulai tenang, aku memberanikan diri tersenyum. Ma memicingkan matanya, lalu mulai memukuli dadanya dengan kedua tinjunya dengan cepat. tak ada suara keluar dari mulutnya. apa yang harus kulakukan? Ma seperti hendak menghancurkan tubuhnya sendiri. aku berteriak memohonnya berhenti, sambil menarik salah satu tangannya dengan tangan kecilku yang tak bertenaga. dan akupun terjengkang jatuh dari tempat tidur, terlontar dari genggamanku pada tangan Ma. kepalaku terantuk ke lantai dan menimbulkan suara yang tak kalah kerasnya dengan suara guruh di luar sana.
Ma kembali tersentak kaget, ia berhenti memukul dadanya dan dengan simbahan air mata diwajah cantiknya, ia turun dari ranjang untuk mengangkatku. "maaf, meutuwah.. maafkan Ma" bisiknya lembut diantara isakan. aku memeluknya erat, sakit di kepalaku seolah hilang. dia membaringkan aku kembali di ranjang dengan hat-hati, "mimpi Ma buruk sekali malam ini" katanya sambil menyelimuti aku. Ma lalu ikut berbaring disisiku, kami berhadapan, aku mengusap pipinya yang basah. sisa tangis tanpa suaranya masih ada. "meutuwah, kau tak perlu lagi menunggu Abu Nek Di-mu di depan sana" katanya sambil menggenggam tanganku. kenapa? apakah Abu Nek Di tidak boleh lagi menjengukku? apakah Nek Tu yang melarangnya? "Abu Nek Di sedang sakit" Ma lalu menepuk-nepuk lembut pantatku, seperti yang biasa ia lakukan kalau aku sudah mengantuk dan hendak tidur. tepukan-tepukan itu seperti nina bobo saja buatku. "sekarang kita tidur, supaya besok, kita tidak terlambat bangun untuk sembahyang subuh" aku mengangguk saja, tepukan lembutnya memang sudah membuaiku sejak tadi.
malam itu aku bermimpi, aku berada di sebuah rumah seperti rumah kami ini, tapi jauh lebih besar dan lebih indah. ... *kok ngantuk yaa?* ntar lagi siaran... huuuhh!
dalam cahaya kamar yang remang, mata Ma berkilat ketakutan, ia menatap pintu kamar yang tak berdaun seperti orang melihat hantu saja. kusentuh pundak Ma pelan, ia menoleh dan menatapku dengan pandangan asing, seolah ia tak mengenali darah dagingnya sendiri ini. aku tak berani bergerak, aku juga takut dengan reaksi Ma. nafas Ma mulai tenang, aku memberanikan diri tersenyum. Ma memicingkan matanya, lalu mulai memukuli dadanya dengan kedua tinjunya dengan cepat. tak ada suara keluar dari mulutnya. apa yang harus kulakukan? Ma seperti hendak menghancurkan tubuhnya sendiri. aku berteriak memohonnya berhenti, sambil menarik salah satu tangannya dengan tangan kecilku yang tak bertenaga. dan akupun terjengkang jatuh dari tempat tidur, terlontar dari genggamanku pada tangan Ma. kepalaku terantuk ke lantai dan menimbulkan suara yang tak kalah kerasnya dengan suara guruh di luar sana.
Ma kembali tersentak kaget, ia berhenti memukul dadanya dan dengan simbahan air mata diwajah cantiknya, ia turun dari ranjang untuk mengangkatku. "maaf, meutuwah.. maafkan Ma" bisiknya lembut diantara isakan. aku memeluknya erat, sakit di kepalaku seolah hilang. dia membaringkan aku kembali di ranjang dengan hat-hati, "mimpi Ma buruk sekali malam ini" katanya sambil menyelimuti aku. Ma lalu ikut berbaring disisiku, kami berhadapan, aku mengusap pipinya yang basah. sisa tangis tanpa suaranya masih ada. "meutuwah, kau tak perlu lagi menunggu Abu Nek Di-mu di depan sana" katanya sambil menggenggam tanganku. kenapa? apakah Abu Nek Di tidak boleh lagi menjengukku? apakah Nek Tu yang melarangnya? "Abu Nek Di sedang sakit" Ma lalu menepuk-nepuk lembut pantatku, seperti yang biasa ia lakukan kalau aku sudah mengantuk dan hendak tidur. tepukan-tepukan itu seperti nina bobo saja buatku. "sekarang kita tidur, supaya besok, kita tidak terlambat bangun untuk sembahyang subuh" aku mengangguk saja, tepukan lembutnya memang sudah membuaiku sejak tadi.
malam itu aku bermimpi, aku berada di sebuah rumah seperti rumah kami ini, tapi jauh lebih besar dan lebih indah. ... *kok ngantuk yaa?* ntar lagi siaran... huuuhh!