Sore ini ngga hujan.. (sementara kayaknya.. karena awan hujan masih keliatan). lagi-lagi kantor sudah sepi.. anak-anak ini makin dekat hari gajian, makin cepat aja pulangnya.. hahaha...
sambil baca-baca postingan kawan-kawan di milis, nemu artikel ini di republika.co.id
tentang sesuatu yang bukan cerita baru sepertinya. kliklah!
yah.. beberapa waktu lalu, naskah-naskah kuno Aceh, yang banyak disebut-sebut para penulis dalam artikel-artikel mereka (yg pasti juga cuma mereka kutip dari sana sini) tanpa pernah menyentuh atau melihat naskah aslinya atau paling tidak cetakan awalnya, ternyata ada di museum Inggris di London.
Terpikir olehku, dulu.. para penulis di Nusantara ini pasti tidak banyak jumlahnya, dan mesin pencetaknya juga belum ada. pastilah naskah-naskah itu ditulis tangan pada daun lontar atau kertas tempoe doeloe yang biasanya terbuat dari kulit binatang kan? mana mungkin juga para penulis ini menulis salinan lebih dari 10 kan? Nah.. pastilah pada masa penjajahan dulu, hasil-hasil tulisan mereka itu dikuasai oleh penjajah. karena bisa jadi dikuatirkan akan menimbulkan golak pemberontakan, selain alasan untuk menyelamatkan catatan sejarah.
ada beberapa hal yang selalu menggangguku, sebenarnya.. siapa yang paling berhak terhadap naskah-naskah milik penulis nusantara itu? ahli waris penulis? negara asal? atau yang mengambilnya? karena kebanyakan dari pada harta kekayaan warisan kerajaan atau kebudayaan nusantara yang berada di Eropa atau belahan dunia manapun ini, tak mudah untuk diambil kembali. bagaimana kita hendak tahu tentang sejarah masa lalu kita, bila untuk mengakses peninggalan sejarahnya saja, kita harus pergi ke negeri orang dan biasanya.. akses hanya dibuka buat ilmuwan saja. aneh...
dari sini aku mulai belajar memahami, mengapa Bahasa bisa menjadi salah satu alat untuk menguasai yang paling jitu. cara mudah merubah suatu budaya bisa diawali dengan akulturasi, mencampur budaya yang berbeda. pernah kubaca dalam sebuah novel yang lumayan bagus karya si Puthut EA (jangan beli cinta dalam karung), dimana sikap si tokoh yang anti british. dia tidak suka orang bicara menggunakan bahasa inggris dengan sesama orang indonesia. katanya begini ..memang kedengarannya picik. tapi pada suatu ketika ada benarnya juga.
mengapa bisa terjadi demikian?
aku pikir.. kalau kita tidak dibekali dengan informasi yang cukup mengenai nasionalisme dan jati diri.. maka dengan mudah kita akan terbawa arus perubahan dan latahmeniru kebudayaan bangsa lain begitu rupa.
Bia kita sudah tak bangga lagi berbicara dalam bahasa ibu kita.. maka lupakan saja nasionalisme. sebuah penelitian yang pernah kubaca menyebutkan bahwa, seorang anak yang bisa bahasa ibunya dengan fasih, maka dia akan penuh percaya diri dan mudah belajar bahasa-bahasa lain di dunia ini. tugas siapakah untuk mengajarkan mereka? para guru saja? iklan di televisi? buku bacaan? atau kita sebagai orang tuanya?
Rabu, 26 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar