Siang ini, Suci kirim sms, katanya kepala masih berasa agak pening, tengkuk yang sebelah kanan agak kaku, lututnya bengkak dan agak perih. meskipun rasa sakitnya ngga separah setelah kecelakaan pada Rabu malam lalu, dia sudah bisa tidur lebih nyaman semalam.
Siang ini juga, aku bertemu salah seorang pekerja di LSM Katahati Institute (dimana aku duduk sebagai sekretaris dewan pengurus), Mujib. padanya kutanyakan tentang salah seorang pekerja yang kemarin sore meninggal dunia (kabarnya kudapat dari sms sang direktur). kata Mujib, Alm. Khairil meninggal akibat tabrakan maut pada Rabu malam, seusai mengikuti acara mengenang 100 hari kepulangan RHM. aku tak bertemu dengannya disana, karena aku meninggalkan acara, ketika orang-orang masih menikmati kopi dan ngobrol satu sama lainnya.
Mujib juga bilang bahwa saat meninggal dunia, keadaan kepala Almarhum bengkak, dan aku begitu yakin bahwa saat mengendarai motornya, dia tidak pakai Helmet. mungkin karena dia pikir, dia hanya mencari makan malam saja, dan lokasinya tidak jauh dari kantor. pada malam itu, hujan juga sangat deras. Innalillahi wainnailaihi raji'un. siapa bisa menebak kapan Malaikat Izrail datang menjemput nyawa dan pada peristiwa apa? Wallahualam.
kemarin siang, sepulang dari RS Fakinah untuk memeriksa keadaan Suci dan membersihkan luka-lukanya, kami singgah di sebuah Apotik terkenal dikota ini untuk menebus obat. pada saat yang sama, seorang ibu juga sedang menebus obat. mungkin usianya sebaya ibuku, harga obat dalam resepnya hanya 46ribu rupiah saja (maaf bukan bermaksud sombong dengan berkata hanya). tapi si ibu menebus setengahnya saja. kuperhatikan saat dia menghitung uang dalam dompet plastik kecilnya. lembaran uang kertas ribuan yang mungkin jumlahnya tak sampai 20-an lembar. miris hatiku, obat untuk suci yang harus kutebus nilainya 134rb, sedangkan sang ibu, yang sepertinya tidak punya askeskin itu (aku mendengar sang apoteker menyuruh seorang ibu yang menggunakan kartu askes agar ke apotik sebelah), 1/3 dari nilai obat si suci saja, tak mampu.
saat sama-sama menunggu, seorang peminta-minta datang. sang ibu memberikan sisa recehan uang logam dalam tas-nya. amazing... aku kagum padanya. dalam keterbatasannya, dia masih mau berbagi. Alhamdulillah, bila kita tak bergerak terlalu cepat, kita bisa sempat memunguti hikmah yang bertaburan dan berselemak disepanjang jalan dan kehidupan penghuni semesta disekitar kita.
Sore barusan, Suci sms lagi, dia bilang, temannya pemilik motor, tidak minta supaya motornya diperbaiki, tetapi minta supaya kaca helmet yang pecah diganti. kemarin sekilas aku dengar sepertinya si teman sedang butuh uang. jadi kukatakan pada Suci, aku akan penuhi permintaannya plus biaya perbaikan motornya dalam bentuk uang tunai, terserah pada si teman untuk memanfaatkan uang itu untuk apa. sekaligus aku melarang Suci untuk pinjam motornya lagi. bukan untuk menghukum, tapi sekedar berjaga-jaga. biasanya ingatan tentang peristiwa kecelakaan itu akan tersimpan selama beberapa lama, terutama bila dia kembali menggunakan benda yang sama. mungkin sudah saatnya juga aku dan Ninong menjalankan niat untuk kredit motor buat Suci. Insya Allah...
Siang ini juga, aku bertemu salah seorang pekerja di LSM Katahati Institute (dimana aku duduk sebagai sekretaris dewan pengurus), Mujib. padanya kutanyakan tentang salah seorang pekerja yang kemarin sore meninggal dunia (kabarnya kudapat dari sms sang direktur). kata Mujib, Alm. Khairil meninggal akibat tabrakan maut pada Rabu malam, seusai mengikuti acara mengenang 100 hari kepulangan RHM. aku tak bertemu dengannya disana, karena aku meninggalkan acara, ketika orang-orang masih menikmati kopi dan ngobrol satu sama lainnya.
Mujib juga bilang bahwa saat meninggal dunia, keadaan kepala Almarhum bengkak, dan aku begitu yakin bahwa saat mengendarai motornya, dia tidak pakai Helmet. mungkin karena dia pikir, dia hanya mencari makan malam saja, dan lokasinya tidak jauh dari kantor. pada malam itu, hujan juga sangat deras. Innalillahi wainnailaihi raji'un. siapa bisa menebak kapan Malaikat Izrail datang menjemput nyawa dan pada peristiwa apa? Wallahualam.
kemarin siang, sepulang dari RS Fakinah untuk memeriksa keadaan Suci dan membersihkan luka-lukanya, kami singgah di sebuah Apotik terkenal dikota ini untuk menebus obat. pada saat yang sama, seorang ibu juga sedang menebus obat. mungkin usianya sebaya ibuku, harga obat dalam resepnya hanya 46ribu rupiah saja (maaf bukan bermaksud sombong dengan berkata hanya). tapi si ibu menebus setengahnya saja. kuperhatikan saat dia menghitung uang dalam dompet plastik kecilnya. lembaran uang kertas ribuan yang mungkin jumlahnya tak sampai 20-an lembar. miris hatiku, obat untuk suci yang harus kutebus nilainya 134rb, sedangkan sang ibu, yang sepertinya tidak punya askeskin itu (aku mendengar sang apoteker menyuruh seorang ibu yang menggunakan kartu askes agar ke apotik sebelah), 1/3 dari nilai obat si suci saja, tak mampu.
saat sama-sama menunggu, seorang peminta-minta datang. sang ibu memberikan sisa recehan uang logam dalam tas-nya. amazing... aku kagum padanya. dalam keterbatasannya, dia masih mau berbagi. Alhamdulillah, bila kita tak bergerak terlalu cepat, kita bisa sempat memunguti hikmah yang bertaburan dan berselemak disepanjang jalan dan kehidupan penghuni semesta disekitar kita.
Sore barusan, Suci sms lagi, dia bilang, temannya pemilik motor, tidak minta supaya motornya diperbaiki, tetapi minta supaya kaca helmet yang pecah diganti. kemarin sekilas aku dengar sepertinya si teman sedang butuh uang. jadi kukatakan pada Suci, aku akan penuhi permintaannya plus biaya perbaikan motornya dalam bentuk uang tunai, terserah pada si teman untuk memanfaatkan uang itu untuk apa. sekaligus aku melarang Suci untuk pinjam motornya lagi. bukan untuk menghukum, tapi sekedar berjaga-jaga. biasanya ingatan tentang peristiwa kecelakaan itu akan tersimpan selama beberapa lama, terutama bila dia kembali menggunakan benda yang sama. mungkin sudah saatnya juga aku dan Ninong menjalankan niat untuk kredit motor buat Suci. Insya Allah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar