orang-orang ribut tentang seorang anak perempuan berusia 12 tahun dinikahi oleh seorang laki-laki dewasa. awalnya aku juga ikut ribut, karena kupikir si anak adalah korban dari sebuah konspirasi jahat orang dewasa yang tak lain tak bukan orang tuanya sendiri, demi mengatasi masalah kemiskinan yang dihadapi.
aku membayangkan alat reproduksinya yang akan diobrak abrik oleh alat reproduksi seorang dewasa. aku membayangkan kesakitan. aku membayangkan betapa dia tiba-tiba terseret pada kehidupan yang berat, menjalankan tugas sebagai seorang istri seperti yang diatur, disepakati oleh orang-orang yang disebut masyarakat.
kubayangkan betapa dia kehilangan masa kecilnya yang indah, bermain, mengenal dunia dan mereguk ilmu sebanyak-banyaknya. bahkan yang lebih parah dalam upaya mengatasi masalah pekerja anak, dia malah terjerumus dalam kondisi sedemikian rupa.
tetapi, sekarang aku berpikir bahwa dia sudah menentukan pilihannya, terlepas dari kemungkinan bahwa dia tidak berpikir dengan baik karena keterbatasan pengetahuannya dan lingkungan sekitarnya yang sudah menutup semua akses pada kebebasan yang ada dipikiranku, sebagai seorang perempuan dewasa. pernah kutanyakan pada adik kecilku yang seusia dengannya. maukah adikku menikah dengan seseorang yang usianya 3 kali lipat usianya. adikku menangis, tidak mau katanya. kenapa? karena dia masih ingin bermain, menikmati hidup seperti teman-temannya. sudah kuberikan dia gambaran indah sebuah perkawinan lewat buku-buku. mencekoki dalam kepalanya dalil-dalil perlindungan dan kemudahan menikmati kemewahan. dia tetap menolak.
baiklah, mungkin karena adikku tidak dibesarkan dalam lingkungan religius yang ketat, hanya dalam sebuah lingkungan yang membebaskan dia memilih apa yang dia suka dan baik untuk dirinya sendiri. karena dia tahu, keluarganya tidak dililit hutang, tidak kelaparan, kakak-kakaknya setiap saat bisa bertindak untuk membantunya saat dia merasa tak berdaya sebagai seorang anakkecil.
kembali pada si anak perempuan yang sudah menikah dan sah secara hukum agama islam itu. kemarin, aku mendengarnya menolak untuk dipulangkan ke rumah orang tuanya, apalagi dicerai oleh suaminya demi memberinya kesempatan menikmati masa kanak-kanaknya lagi, paling tidak sampai dia berusia 16 tahun (sesuai dengan hukum positif negara ini). dan dia menambahkan alasan Cinta dalam alasan penolakannya.
aku tak bisa berkata apa-apa, siapalah kita hendak memisahkan dua orang yang saling mencintai, terlepas dari apapun asal mula sebab kemunculan cinta tersebut. mungkin orang-orang akan tertawa, mana mungki ada anak sekecil itu paham akan cinta? ahaaii.. soal ini aku tak mau mendebat. yang kupahami adalah semua orang tentu tahu apa yang dikatakan dan dirasakan hatinya sendiri. intervensi terhadap rasa cinta itu, tentulah tak bijak dilakukan.
aku pikir, sebaiknya lah kita membiarkan dia menikmati apa yang sudah dipilihnya itu. itu hidupnya, itu kebahagiaannya. sebagai manusia yang belum dewasa pikir, mungkin dia tak sungguh paham apa yang dilakukannya. tapi siapakah kita yang hendak memisahkan seorang istri dari suaminya? kita bukan hakim dalam perkara ini. aku menghargai pilihannya, aku ikut berdo'a demi keselamatannya.
aku berlepas diri, karena aku setuju dengan prinsip-prinsip kemanusiaa. setiap orang berhak atas kebebasan diri, yaitu menentukan apa yang akan dan mau dia lakukan. setiap orang berhak atas kebahagiaan, yaitu menikmati pilihan hidup dan hatinya. tentu saja, dengan tidak mengganggu atau mengusik kebebasan dan kebahagiaan orang lain pula.
aku berlepas diri, karena aku tidak akan pernah tahu apa yang dia rasakan sesungguhnya, selama dia mengatakan dirinya bahagia. aku berlepas diri selama dia tidak mengeluh dan menceritakan pada sesiapa tentang isi hatinya. aku berlepas diri, karena Allah SWT akan selalu menjaga orang-orang yang berniat baik.
yang aku pahami, inilah salah satu bukti bahwa ada yang belum selesai dilakukan oleh negara ini. upaya untuk mendidik masyarakat agar paham akan Hak-haknya sebagai warga negara dan manusia, memang belum selesai dilakukan. praktek-praktek pernikahan dini dengan alasan agar bisa keluar dari kemiskinan, menghindari perzinahan dan sebagainya, adalah salah satu bukti bahwa upaya itu belum berhasil. tapi, bukan berarti aku berlepas diri begitu saja dan menyerahkan semua urusan itu pada negara yang para pengurusnya lebih banyak disibukkan dengan urusan memperkaya diri dan mempertahankan kekuasaan.
mencaci maki, menghujat dan tak peduli adalah reaksi yang wajar saja, manusiawi sekali kupikir, selama kita punya akal pikir dan nafsu amarah. hanya sedikit saja yang ingin kutekankan pada diriku sendiri, jangan bereaksi berlebihan terhadap sesuatu yang tak kau ketahui ujung pangkalnya dan jangan sekali-kali kau menghakimi pendapat orang apalagi kau merampas kebebasan orang-orang dalam menentukan pilihan-pilihan. karena setiap manusia pasti dimintai tanggung jawab atas setiap pilihan dan perbuatan yang dilakukannya.
dari aspek usia, sang istri memang masih masuk kategori manusia kecil yang harus dilindungi dari kekejaman sebagian manusia dewasa disekitarnya. tapi ketika dia sudah menjadi seorang istri, maka biarlah dia menjadi tanggung jawab suaminya. bila nanti dia disakiti oleh suaminya, maka barulah kita memberinya pertolongan, karena tolong menolong dalam berbuat kebaikan adalah perintah Allah SWT.
siapakah kita, yang tidak pernah tahu apa yang dirasakannya, kecuali dia berbagi dengan kita? siapalah kita yang begitu ingin menghukum suaminya? padahal kita tak mampu juga menjaga mulut dan hati untuk terus menerus menyiksanya karena ketidak pahamannya akan hak-nya? tidak ada yang menjamin bahwa dia akan terhindar dari gunjingan, kekerasan dalam bentuk lain dari sekitarnya.
sekarang, menurutku tindakan terbaik adalah mengatasi masalah kemiskinan terstruktur ini. melepaskan orang-orang dari belenggu kebodohan dan pembodohan. membagi tahu apa yang menjadi Hak Anak, pada orang-orang tua-nya dan masyarakat secara lebih luas. Mari melihat disekitar kita, adakah anak-anak yang belum mendapatkan kasih sayang dan Hak-nya, apa yang bisa kita lakukan untuk mereka? mencukupkan kebutuhannya, menciptakan lingkungan yang baik untuk tumbuh kembangnya, mendengar suaranya tentang kehidupan. jika hanya anak-anak biologis kita yang kita lindungi, darimana kita tahu bahwa anak-anak biologis kita itu tidak akan terpengaruh oleh anak-anak tidak biologis kita yang jumlahnya lebih besar itu? kita tak dapat mengurung mereka selamanya untuk melindunginya dari pengaruh dunia, kan?
Kamis, 06 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar