Entah apa rencana Tuhan untuk-ku kali ini. aku tak mau tahu, karena biasanya juga Tuhan tak pernah memberitahuku rencana-rencanaNya. yang bisa kulakukan hanyalah mengambil hikmah dan belajar dari setiap peristiwa dalam satu waktu yang hanya terjadi sekali.
kita tidak bisa merayakan 100 hari kematian seseorang dua kali, kan? atau tidak bisa merayakan ulang tahun yang ke 21 dua kali dalam seumur hidup, kan? dan tidak bermaksud mengeluhkan apa yang kualami minggu ini, sebagai masalah yang berat seolah tak ada jalan keluarnya. apalagi sampai membuatku terpuruk tak ingin bangun lagi.. tidak semudah itu merubuhkan aku.
perkara perutku yang masih belum normal benar ukurannya karena menderita kembung dan murus-murus sejak hari minggu lalu, sampai saat ini. mau tak mau harus kuabaikan saja. semalam dalam keadaan tidak nyaman, aku sanggup membantu kawan-kawan Komunitas Tikar Pandan memimpin acara Mengenang 100 hari kepulangan sahabat, RHM. seperti tak sabar saja hendak menyelesaikan seluruh rangkaian acara itu tepat pada pukul 22.00 WIB.
Dan benar saja, begitu aku pamit lebih cepat dan membereskan ranselku, ada telpon dari Ninong. kabarnya Suci si Nomer 8 mengalami kecelakaan. yang pertama harus kulakukan adalah menenangkan Ninong, karena biasanya manusia satu ini lebih merepotkan daripada yang mengalami masalah. Benar saja, Ninong kan pernah mengalami kondisi begini, jadi bangkit lagi deh ingatan dan ketakutannya. setelah Ninong tenang, berikutnya Suci.
Saat menerima telponku, dia kedengaran gemetaran, bingung dan ..hmm.. kesakitan atau ketakutan mungkin. asumsiku, dia mengalami shock. segera, aku meluncur menuju lokasi kejadian, tak ada niatku menginterogasi apa yang terjadi. yang sudah terjadi ya sudah, sekarang bagaimana menangani masalahnya. berdua Dek Ikhwan (pacarnya Ninong), aku mendatangi rumah Kost cowo di kawasan Prada Utama, karena anak-anak cowo itulah yang menolong suci, memindahkannya dari jalanan dan meminjamkan kamar untuk istirahat. ada beberapa luka lecet di tubuh sebelah kirinya.
saat melihatku, suci cuma minta dipeluk karena merasa kedinginan. aku peluk sebentar, lalu membujuknya agar ke rumah sakit. dia terus menolak karena takut akan pelayanan yang kasar di RSUZA. ya sudah, aku tak memaksa (meskipun aku tahu itu bukan tindakan yang benar dan bijaksana), kutanyakan apakah dia bisa jalan atau duduk diboncengan? Suci langsung berdiri, meraih ransel dan keluar.
Dek Ikhwan mengantar Pemilik Motor dan Motornya yang rusak pulang, aku berjanji akan membereskannya besok saja. karena sekarang jauh lebih penting membawa Suci pulang, agar aku punya waktu memeriksa keadaannya. Suci duduk dan menggigil diboncengan, ditengah rintik hujan, kami tiba jua d rumah kajhu. Ninong menyambut dengan kondisi siap siaga seperti orang akan bepergian. Setelah melewati proses perdebatan sedikit, akhirnya Suci menyerah pada keputusanku dan ninong untuk membereskan luka-lukanya seadanya. aku tidak tahu, meskipun sebenarnya ada marah dan kesal karena Suci tidak bisa menjaga dirinya sendiri. aku tidak meluapkannya dengan kata-kata kasar dan tajam, aku hanya diam dan sesekali mengganggu. Ninong juga marah sebenarnya, makanya dia terdengar kesal pada diri sendiri saat Suci mengaduh-aduh.
Suci memang lebih rewel dan masih mempertahankan sikap angkuhnya bahwa dia tidak apa-apa, padahal aku tahu betul dia sedang mempertahankan egonya yang terluka karena akhirnya dia rubuh oleh keteledorannya sendiri. ingin betul aku menceramahinya tentang segala hal, tapi kutahan dulu. aku tak mau mencampur adukkan masalah, aku sedang tak sehat, pekerjaanku juga sedang butuh banyak konsentrasi, masalah laki-laki juga ada ditambah kecelakaan Suci... aku memilih diam dulu.
Suci tidak bisa tidur nyenyak, sebelum aku melingkarkan lenganku ditubuhnya. karena hanya 5 menit setelah aku meletakkan tanganku, dia langsung bernafas dengan teratur dan mendengkur. berulang kali dia mengeluh kedinginan, kukatakan bahwa itu reaksi normal pasca kecelakaan. orang medis sebut Syndrom Pasca Trauma. tapi sayangnya, aku tak tahan tidur dengan tubuh sebelah kiri terhimpit. jadinya baru setengah jam, sudah pegal rasanya. dan begitu aku menarik tubuhku dari Suci, dia langsung gelisah lagi. tapi aku tak mau ambil pusing, ini perutku juga sedang ngga mau kompromi sakitnya.
saat pagi datang, Suci mendesakku agar segera bangun dan membawanya ke Rumah Sakit. meski agak malas, kuikutkan kemauannya. ahh jadi dapat kesempatan untuk kuliah pagi nih.. hehehhe. ya sudah, mulai kukeluarkan beberapa pernyataan tentang pentingnya berhati-hati apabila jauh dari rumah sendiri. berhati-hati dan konsentrasi dijalanan saat berkendara, apalagi minjam motor teman. Kalau dalam kondisi normal, Suci pasti akan membantah dan membanting pintu mendengarnya. tapi, aku memanfaatkan kesempatan ketidak berdayaannya dengan baik. entahlah.. apakah dia benar-benar menyimak atau tidak, aku tidak mau memaksa. bagiku, dia adalah manusia yang sudah cukup berilmu dan berakal, paham akan yang harus dihadapi dan dipilihnya. jadi tidak pada tempatnya aku mendikte lagi.
bukan senang rasanya melihatnya menjerit-jerit dan bertingkah seolah hampir mati, saat luka-lukanya dibersihkan oleh para perawat di RS Fakinah. malu... dan kesal lebih tepat. aku tak pandai membujuk, jadi yang bisa kulakukan adalah mengancam akan meninggalkannya bila terus bersikap manja. kupikir, Suci harus belajar tentang konsekuensi bertindak. tapi entahlah, seingatku.. makhluk satu ini, tidak bisa menikmati rasa sakit tanpa menyimpan dendam sedikitpun. seingatku, apabila dia marah pada sesuatu, maka dia akan membalasnya dengan menyakiti dirinya sendiri dan mempermalukan keluarganya dengan cara yang aneh. seolah-olah, bila keluarganya merasa malu, maka dia sudah berhasil menunjukkan kuasanya. ahh.. tak paham aku dengan cara itu.
mungkin, aku memang lemah dalam mengambil tindakan. mungkin aku terlalu kompromis dengan ketidak benaran tindakannya. aku hanya ingin, dia belajar dan bisa mengambil hikmah dari perbuatannya. yang aku ingin dia tahu adalah, dia tidak bisa menyakitiku atau merubuhkanku karena tindakan-tindakannya. aku ingin dia tahu, aku adalah kakaknya, bukan musuhnya.
tidak tahu aku, apa rencana Tuhan atasku dengan semua keadaan ini, dan aku tidak mau tahu. aku hanya ingin mengambil hikmah dan belajar saja. ada kesadaran datang hari ini, sekuat apapun aku berusaha menjaga diriku dari ketidak benaran, aku tak bisa bahagia bila masih ada ketidak benaran disekitarku, terutama dari orang-orang terdekat dan aku sayangi. yang harus kulakukan adalah bersama-sama mereka aku saling menjaga diri dari ketidak benaran tindak dan sikap.
semoga...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar