aku bukanlah seorang manusia berorientasi sex yang salah. aku juga tidak bernafsu pada yang berjenis kelamin sama. tapi kadang kala aku berpikir, apa rasanya kalau aku menjadi pecinta sesama jenis? apa pasal, tiba-tiba aku berpikir demikian? baiklah, akan kuceritakan kisahnya padamu, kawanku.
semuanya berawal dari sebuah mimpi, pada suatu malam yang ribut karena hujan angin yang tak pernah datang menyinggahi kotaku. malam itu, sebelum tidur aku memaca sebuah kisah dalam sebuah buku, yang menceritakan kebejatan para petinggi istana sebuah kerajaan muslim di benua Afrika, pada masa terjadinya perang salib. si tuan kadi, yang sering mengadakan pesta, dimana para penari "belly dance" menyentak-nyentak tubuh seiiring tabuhan rebana, tambourine dan oud. apabila seluruh hadirin-hadirat matanya terpacak pada tubuh para penari berperut rata itu, maka sang penyelenggara pesta, malah bergairah melihat liukan kepala sang pemetik Oud yang muda dan tampan.
Usai membaca cerita itu, benakku ingat pada kisah kaum Luth (di kota Sodom dan gomorah yang sedang dicari reruntuhannya setelah dibalik Allah SWT). Dengan segala ketidak pahamanku pada rasa yang dimiliki para pecinta sesama jenis itu, aku paksa diriku tidur, tentu saja sebagai anak yang patuh pada pesan orang tua, aku membaca bismillah dan doa sesudah makan.. ooh maksudku do'a sebelum tidur.
dalam mimpiku, aku sedang berjalan dalam sebuah taman yang indah. dalam kisah-kisah 1001 malam tentang Harun Al Rasyid, aku bisa membayangkan betapa cantiknya bunga-bunga yang ditata berdasarkan musim seminya, pohon-pohon buah yang berbaris sesuai dengan musim panennya, peach, delima, kurma, apel, dan pohon-pohon lainnya yang ditanam mengelilingi sebuah kolam air mancur dengan ikan-ikan berwarna warni meliuk didasar kolam yang jernih.
ada beberapa bangku taman dari berbagai arah menghadap ke kolam itu, diantara pepohonan dan bebungaan. dan kutemukan diriku sedang duduk menikmati sejuknya pagi musim semi pertama, sendiri dengan segelas anggur ditanganku. seseorang menyanyikan lagu cinta sambil memetik Oud (aku baru ingat pada alat yang dimainkan jazzer asal maroko yang hadir dalam Java Jazz 2008, youseff). syair-syairnya yang mendayu dan merayu membuat hatiku berbunga. sepertinya sang biduan memang menciptakan lagu itu untukku
tidakkah kau dengar suara hatiku, duhai kekasih yang duduk sendiriagung diantara rumpun bunga yang sedang bersemi
harum semerbak memancarkan rindu tak bertepi
akankah kau hangatkan musim dingin yang menyelimuti diri
biarlah aku menjadi anggur, yang mengisi gelas kristal dalam genggammu
reguklah diriku hingga tetes terakhir nanti
agar puas dahagamu akan manis cintaku

kucari asal suara itu, seperti dekat saja kurasa adanya dia. gerangan seperti apa rupa sang biduan pelantun syair cinta itu. tak jua tampak oleh mataku, dimana sembunyi sosok yang sedang menanggung rindu.
"siapakah tuan yang sembunyi dalam rerimbun pohon-pohonku?"
kuteriakkan jua keherananku. ahai.. mengapa suaraku jadi nyaring seperti ini? kuraba leherku dan betapa terkejut aku, wujudku serupa wanita dari negeri timur jauh. mungkin aku secantik Putri Budhur? atau seanggun Putri Syahrazad yang pandai bercerita? kuraba pipiku yang licin seperti mutiara. belum habis terkejutku pada rupa bentukku yang serupa wanita. kudengar lagi syair lagu cinta yang mendayu merayu itu.
siapalah hamba yang hina ini, pemuda yang hampir mati menahan rindupada engkau kekasih yang satu
pecinta ini, telah lama hilang harapan
bila nyawa dicabut saat ini, sudah pasrah hamba pada nasib diri
tapi, dapatkah hamba mendapatkan satu saja permintaan
sentuh dinda pada jiwa yang hampa tak berdaya ini

kuletakkan gelas anggurku yang belum kusentuh manis rasanya. lalu bangkit melangkah mencari dimana kiranya biduan itu bersembunyi. aku mengitari kolam berair jernih yang gemericik air mancurnya kalah oleh indahnya petikan Oud dan syair lagu cinta itu. ketika hampir 360 derajat mengitari kolam, mataku tertumbuk pada sesosok tubuh yang bersandar dibatang pohon apel yang sedang berbunga. aku berhenti hanya sepuluh langkah darinya.
"sungguh tak bijak kiranya, bila seorang pecinta tak punya keberanian menentang wajah kekasihnya", ucapku dengan malu.
Jantungku berdebar lebih kencang, entah apa sebabnya. kulihat laki-laki itu terlonjak dan berdiri tanpa berbalik kearahku.
"maaf puanku, hamba sungguh tak pantas menatap indah rupamu" suara yang jernih namun bernada getir itu membuatku menggigil.
"bila tak berani menatap, maka enyahlah dari tamanku", tantangku seolah marah.
hening membentang, jarak sepuluh langkah seperti jurang pemisah yang dalam.
"sudikah, puanku memaafkan? bila hamba lancang menatap mata?" tanya yang masih digelayuti rasa rendah diri.
"mata diciptakan untuk menatap indah cipta-NYA", jawabku tajam.
seperti apakah pengagum rahasiaku ini? tanyaku dalam hati. sungguh penasaran ingin segera memandang rupanya.
"berjanjilah puanku, pejam matamu dan baru akan membukanya apabila hamba telah tepat dihadapanmu"
sialan juga nih orang! banyak kali pun syarat. tapi apa salahnya pikirku. aku sudah sering bertemu orang-orang dengan rupa yang macam-macam bentuknya, tampan serupa pangeran dalam cerita, buruk seperti beruk atau buaya, cantik seperti perempuan-perempuan dari balkan, jelek seperti kulit jeruk purut dan durian. tak ada rupa manusia yang membuatku tersiksa. karena bagiku, hakikat manusia bukan semata dinilai dari rupa wajah saja, tapi kata dan sikap diri yang senantiasa rendah hati.
"bila itu membuatmu mau menunjukkan dirimu dihadapanku, baiklah.. aku pejamkan mataku sekarang, aku akan menghitung sampai 23, dan kuharap pada hitungan terakhir engkau sudah berdiri didepanku"
tawar menawar yang adil sepertinya. aku pun memejamkan mata dan mulai menghitung mundur dari 23.
"23.. 22..21..20...."
tak kudengar apa-apa selain gemericik air mancur. kemana perginya burung-burung yang biasa riuh berloncatan dari satu pohon ke pohon lainnya. udara bergeming. dedaunan tak berbisik.
"7..6..5..4..3..2..1"
kuhela nafas dan kubuka mataku. ahaaaii... aku nyaris menjerit. mataku terbelalak, jantungku berdegup kencang. Hanya berjarak 5 senti dari hidungku, harum yang sangat kukenal sejak lahir, harum ayahku meruap dari dada yang kukuh. aku mendongak menatap wajah si pemilik tubuh gagah itu.
"puanku..", senyum malu menghias wajah rupawan dengan rambut panjang berantakan, serupa seniman malas keramas.
sepertinya aku tak mampu mengingat semua detail mimpiku, atau aku tak mau mengingatnya? karena yang kutahu.. pagi hari saat terjaga dari tidur, aku memaki diriku sendiri, karena bagian depan celanaku bernoda dan basah. seperti masa pertama kali aku dinyatakan sebagai manusia akil baligh. yang aku ingat, pagi itu.. kebanggaanku itu keras dan terus berdenyut-denyut.
bahkan, sampai detik ini..aku rasanya ingin punya vagina saja!! aku masih ingat bagaimana rasanya (padahal cuma mimpi), bagaimana laki-laki dalam mimpiku itu menggulung tubuhku penuh gairah dan taman yang indah itu menjadi saksi bisu, sebuah adegan bercinta paling hebat yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. bagaimana rasanya saat rahimku menerima lahar panas dari pusat bumi yang ada dalam tubuhnya.
apakah seperti itu rasanya, bila seorang perempuan tiba dipuncak kenikmatan-nya? rasa yang sepertinya sangat berbeda dengan apa yang kurasakan saat aku berkhayal sedang bercinta dengan kekasih khayalanku selama ini. apakah seperti itu juga yang dirasakan kekasih khayalanku saat aku menghempasnya rasa melayang yang katanya hanya berlangsung 5 detik saja, tapi seperti selamanya? apakah itu rasanya sehingga ia berulang kali memintaku mengulang sentuhan?
seandainya saja, aku adalah manusia yang memiliki hal yang sama seperti engkau, kawan. aku tentu tak akan menunggu waktu lama untuk memberikan semua kebahagiaan yang kerap diminta dengan nada merengek menggemaskan kekasih khayalanku. seandainya aku bukanlah seorang korban malpraktek dokter-dokter bodoh yang sedang belajar cara mengkhitan orang!
seandainya saja, aku berani merubah takdirku. dengan uang ganti kerugian atas hilangnya kesempatanku menikmati kegiatan bersenggama. aku ingin punya vagina saja! bukan penis buntung seukuran satu buku jari ini!! senadainya saja...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar