kamis senja, 1 mei 2008
obrolan kami diawali dengan berbagi informasi tentang rencana menulis buku dan membuat iklan layanan masyarakat untuk mengajak orang-orang berfikir tentang pentingnya pengungkapan kebenaran
tugas lembaga temanku adalah merancang isi iklan tersebut, lalu diproduksi dan dipasang pada sejumlah surat kabar lokal
hanya butuh 20 menit untuk menyelesaikan perbincangan tentang rencana kegiatan yang berada dibawah koordinasiku sebagai tim kampanye komite sipil untuk pengungkapan kebenaran Aceh (KPK)
obrolan selanjutnya adalah tentang tulis menulis, temanku sedang mempersiapkan sebuah tulisan yang menurutku sangat menarik, entah nanti apa pendapat orang. aku terdiam ketika dia bertanya apa istilah "kolera" dalam bahasa melayu. karena kolera adalah bahasa serapan.
lalu, aku bercerita tentang karanganku soal perbincangan apa tunga dan polem, tentang peulandok ngoen rimueng.
kami sepakat, bahwa bahasa daerah lebih kaya daripada bahasa indonesia (asalnya bahasa melayu lalu di indon-kan, kata dia -lingua franca)
dari berbagi kata tentang bahasa, kami beralih pada masalahnya, yang selalu tidak mampu menghapal kode, bahkan termasuk nomer pin kartu ATM-nya
kukatakan padanya, ada pembicaraan tentang membukukan puisi-puisiku, tapi aku menolak untuk membukukannya, karena menurutku puisi itu bukan sepenuhnya milikku, dan hanya proses rekreasi. ya itu adalah rekreasi, hasil dari membaca dan memahami makna-makna yang dituliskan orang-orang sebelumnya. bukan sepenuhnya berasal dari olah pikirku sendiri. jadi aku tidak akan mau mengklaim bahwa puisi-puisi itu semurni hasil dari buah pikir dan rasaku saja.
temanku bercerita, beberapa waktu lalu, ia mengganti laptopnya, dan ada proses yang terlupa, yaitu memback-up tulisan-tulisannya, sehingga dia kehilangan sejumlah tulisan yang hendak dia arsipkan, meski telah diterbitkan di beberapa media massa.
suatu ketika, dia menemukan tulisan itu ada pada salah satu situs yang baru ditemukannya saat berselancar di dunia maya, dan dengan marah dia katakan"kenapa aku benci sekali copyrights, ci.. padahal itu tulisanku, tapi sama sekali aku tak bisamemilikinya, mau copy paste saja susahnya bukan kira-kira"
aku tertawa... hahahahahahha
kau tolol ry, kataku... salahmu sendiri tak menguasai ilmu-ilmu teknologi informasi, padahal mudah saja kalau hendak mengambil itu semau, kau tinggal menggunakan software/perangkat lunak yang tepat. tidak ada yang mustahil di dunia yang sudah semakin renta ini, semakin mudah dan semakin kaya kreativitas ini.
kemudian, kuberi dia tahu bagaimana caranya, karena buatku itu urusan sepele saja, aku tahu dan paham cara kerjanya, hanya enggan saja kupraktekkan, karen memang tak ada pentingnya buatku.
temanku melonjak girang, ketika dia berhasil mencobanya... aku tak bisa menahan tawaku melihat reaksinya.
kami bicara lagi soal lain hal, membedakan gaya menulis para pengarang, baik kelas dunia maupun kelas indonesia, membedakannya berdasarkan gaya bahasa. kata temanku itu, harusnya aku bangga, terlahir sebagai orang melayu, karena soal sastra, orang melayu ini ahlinya. halus sungguh cara menuliskan rasa. dan aku terpesona, meski sudah kutahu sejak lama.
mana ada pujangga lama yang datang dari pulau di seberang lautan sana?
baca saja roman dan puisi atau prosa lama, hampir semua berasal dari medan, sumatra utara, sumatra barat, timur dan selatan, juga negeriku sendiri, Aceh Nanggroe Darussalam (surga segala surga)
kukatakan padanya, aku suka phutut EA.
dia tertawa, berulang kali temannya itu datang berkunjung ke negeriku, dan dia tak tahu bahwa aku suka tulisan anak itu. ditanyanya, kenapa kau suka, ci? mungkin karena latar belakangnya sebagai aktivis, kena benar bahasa dan alur cerita serta isinya dengan rasaku.
yaah... sastra adalah rasa, bukan logika dan kerja
mari menulis kembali tentang cerita lama, tetapi dengan cara dan gaya yang tak sama, agar tidak disebut orang engkau peniru saja. pengaruh itu biasa, sama seperti aku yang selalu hendak menyamakan selera dengan STA, HAMKA, Nur St Iskandar, Chairil Anwar dan Tuanku Hamzah Fansyuri yang mulia.
kusebut ini proses rekreasi, tanpa mencerabut akar budaya, men-sastra, untuk kesenangan belaka, bukan uang tuju akhirnya.
jadi, jangan heran, bila puisi-puisiku berserak entah untuk apa, kata-kata bagiku adalah burung, tak sedap rasa bila dikurung.
terserah apa pendapat saudara
obrolan kami diawali dengan berbagi informasi tentang rencana menulis buku dan membuat iklan layanan masyarakat untuk mengajak orang-orang berfikir tentang pentingnya pengungkapan kebenaran
tugas lembaga temanku adalah merancang isi iklan tersebut, lalu diproduksi dan dipasang pada sejumlah surat kabar lokal
hanya butuh 20 menit untuk menyelesaikan perbincangan tentang rencana kegiatan yang berada dibawah koordinasiku sebagai tim kampanye komite sipil untuk pengungkapan kebenaran Aceh (KPK)
obrolan selanjutnya adalah tentang tulis menulis, temanku sedang mempersiapkan sebuah tulisan yang menurutku sangat menarik, entah nanti apa pendapat orang. aku terdiam ketika dia bertanya apa istilah "kolera" dalam bahasa melayu. karena kolera adalah bahasa serapan.
lalu, aku bercerita tentang karanganku soal perbincangan apa tunga dan polem, tentang peulandok ngoen rimueng.
kami sepakat, bahwa bahasa daerah lebih kaya daripada bahasa indonesia (asalnya bahasa melayu lalu di indon-kan, kata dia -lingua franca)
dari berbagi kata tentang bahasa, kami beralih pada masalahnya, yang selalu tidak mampu menghapal kode, bahkan termasuk nomer pin kartu ATM-nya
kukatakan padanya, ada pembicaraan tentang membukukan puisi-puisiku, tapi aku menolak untuk membukukannya, karena menurutku puisi itu bukan sepenuhnya milikku, dan hanya proses rekreasi. ya itu adalah rekreasi, hasil dari membaca dan memahami makna-makna yang dituliskan orang-orang sebelumnya. bukan sepenuhnya berasal dari olah pikirku sendiri. jadi aku tidak akan mau mengklaim bahwa puisi-puisi itu semurni hasil dari buah pikir dan rasaku saja.
temanku bercerita, beberapa waktu lalu, ia mengganti laptopnya, dan ada proses yang terlupa, yaitu memback-up tulisan-tulisannya, sehingga dia kehilangan sejumlah tulisan yang hendak dia arsipkan, meski telah diterbitkan di beberapa media massa.
suatu ketika, dia menemukan tulisan itu ada pada salah satu situs yang baru ditemukannya saat berselancar di dunia maya, dan dengan marah dia katakan"kenapa aku benci sekali copyrights, ci.. padahal itu tulisanku, tapi sama sekali aku tak bisamemilikinya, mau copy paste saja susahnya bukan kira-kira"
aku tertawa... hahahahahahha
kau tolol ry, kataku... salahmu sendiri tak menguasai ilmu-ilmu teknologi informasi, padahal mudah saja kalau hendak mengambil itu semau, kau tinggal menggunakan software/perangkat lunak yang tepat. tidak ada yang mustahil di dunia yang sudah semakin renta ini, semakin mudah dan semakin kaya kreativitas ini.
kemudian, kuberi dia tahu bagaimana caranya, karena buatku itu urusan sepele saja, aku tahu dan paham cara kerjanya, hanya enggan saja kupraktekkan, karen memang tak ada pentingnya buatku.
temanku melonjak girang, ketika dia berhasil mencobanya... aku tak bisa menahan tawaku melihat reaksinya.
kami bicara lagi soal lain hal, membedakan gaya menulis para pengarang, baik kelas dunia maupun kelas indonesia, membedakannya berdasarkan gaya bahasa. kata temanku itu, harusnya aku bangga, terlahir sebagai orang melayu, karena soal sastra, orang melayu ini ahlinya. halus sungguh cara menuliskan rasa. dan aku terpesona, meski sudah kutahu sejak lama.
mana ada pujangga lama yang datang dari pulau di seberang lautan sana?
baca saja roman dan puisi atau prosa lama, hampir semua berasal dari medan, sumatra utara, sumatra barat, timur dan selatan, juga negeriku sendiri, Aceh Nanggroe Darussalam (surga segala surga)
kukatakan padanya, aku suka phutut EA.
dia tertawa, berulang kali temannya itu datang berkunjung ke negeriku, dan dia tak tahu bahwa aku suka tulisan anak itu. ditanyanya, kenapa kau suka, ci? mungkin karena latar belakangnya sebagai aktivis, kena benar bahasa dan alur cerita serta isinya dengan rasaku.
yaah... sastra adalah rasa, bukan logika dan kerja
mari menulis kembali tentang cerita lama, tetapi dengan cara dan gaya yang tak sama, agar tidak disebut orang engkau peniru saja. pengaruh itu biasa, sama seperti aku yang selalu hendak menyamakan selera dengan STA, HAMKA, Nur St Iskandar, Chairil Anwar dan Tuanku Hamzah Fansyuri yang mulia.
kusebut ini proses rekreasi, tanpa mencerabut akar budaya, men-sastra, untuk kesenangan belaka, bukan uang tuju akhirnya.
jadi, jangan heran, bila puisi-puisiku berserak entah untuk apa, kata-kata bagiku adalah burung, tak sedap rasa bila dikurung.
terserah apa pendapat saudara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar