Sambil mendengarkan Fajran dan Amrizal J Prang memaparkan makalah dan pemikiran mereka tentang polemik pemekaran wilayah Aceh vs MoU Helsinki, peluang dan tantangan terhadap perdamaian di Aceh, saya berdialog lewat sms, dengan seorang kawan yang mengaku dirinya Nasionalis.
Setelah Amrizal dengan tegas mengatakan bahwa Pemekaran itu bertentangan dengan MoU, juga UU no.11/2006 tentang Pemerintahan Aceh. klausul yang dipakainya adalah artikel 1.1.4 tentang perbatasan Aceh merujuk pada perbatasan 1 Juli 1956, yang berarti pula, bahwa perbatasan Aceh merujuk pada UU No.24/1956. hmm... perbatasan Aceh??
ALA = Aceh Leuser Antara
ABAS = Aceh Barat Selatan
artinya tidak ada yang melanggar perbatasan Aceh dun? kan itu di bagian depan masih ada Acehnya? hhmm.... kenapa tiba-tiba jadi pro pemekaran??
sebelum ketahuan alasannya, aku tuliskan dulu isi presentasi Fajran yang didepak SIRA karena dulu menawarkan konsep federasi dan otonomi, sedangkan SIRA menawarkan REFERENDUM, tanpa berpikir tentang OPSI-nya.
menurut penelusuran dokumen yang dibacanya, tulisannya Asna Husin (seorang tokoh perempuan Aceh), ada 6 alasan mengapa ALA minta pemekaran, yang mula munculnya pada tahun 1999 (ternyata issue ini memang komoditas politik paling sexy, selalu nongol pada saat jelang pemilu), yaitu;
1. Jarak yg jauh ke Banda Aceh (pusat pemerintahan Aceh)
2. Prasarana yang relatif ketinggalan (gubernur aja malas ke sana, karena jalannya emang buruk)
3. Pelayanan yang sulit (masalah kapasitas dan pengawasan juga)
4. Ada Diskriminasi (karena mereka bahasanya lain, jadi diabaikan ngga dianggap Aceh-politik identitas)
5. Sulit jadi Pejabat Teras (waahh... selalu saja Saudara dari Meureudu atau Matang..hahahah)
6. Demi memperjuangkan kesejahteraan Rakyat.
Fajran lalu meng-konklusikan dengan menyatakan bahwa, alasan 1,2,3 adalah faktor demografis sedangan 4 dan 5 itu faktor sosial.
dia menggambarkan, dari hasil penelitian yang dilakukannya beberapa waktu lalu, ada irisan yang bertemu dalam persoalan ALA-ABAS. pemekaran bukan barang haram dalam demokrasi. irisan-irisan yang menarik itu adalah;
a. kepentingan politik elite lokal dan nasional
b. kepentingan militer (pertahanan dan keamanan)
c. diskriminasi anggaran dan sosial
akan sangat sulit mempengaruhi irisan a dan b, karena memang bukan bidang kita sebagai masyarakat sipil. tetapi persoalan paling besar adalah irisan c, kenapa? karena ini adalah refleksi kegagalan kita melihat identitas. identitas adalah bagaimana kita dipersepsikn orang dan bagaimana kita mempersepsikan diri sendiri.
belajar dari pengalaman saja, ketika aku mengaku Aceh, maka sebagian orang akan langsung bilang "Aceh mana?" whaaatt? pertanyaan primordialisme paling purba yang terus menerus dipelihara. bahwa bila mengaku orang Aceh maka harus bisa bahasa Aceh, adalah sebuah pemahaman yang keliru. sejak jaman dahulu, jaman yang dibangga-banggakan oleh mereka yang pernah megang senjata dan manja karena mereka sudah mau berhenti melawan (huuhhh.. mereka pikir orang-orang gampong yang sengsara di bal-bal tentara karena mereka, tak pantas dimanja?), bahasa pemersatu orang Aceh adalah bahasa MELAYU!! coba lihat kitab kuning-mu ... Arab Jawo (tulisan arab gundul, dibaca dalam bahasa melayu)
benar, bahwa kita kerap salah melihat identitas. Identitas sebagai SUKU atau IDENTITAS sebagai BANGSA? ketika beberapa malam lalu, aku berbahasa melayu saat menyampaikan informasi tentang seni tradisi (seolah didong bukan tradisi..), beberapa penonton menyuruhku berbahasa Aceh, padahal di samping kiri Stand Aceh Tengah, Di depan Stand Bener Meriah, dan mereka tidak berbahasa Aceh!!!
kuikuti saja, tetapi malam berikutnya, ada penonton yang bilang, kalau tak bisa bahasa Aceh, pakai saja bahasa JAWA??? lhooo.... picik sekali!!
AKU ORANG ACEH, meski darahku tak murni ACEH, tapi aku adalah BANGSA ACEH, karena aku menghargai semua orang yang hidup di Nanggroe ini. aku mencintai orang-orang GAYO, SIMEULEU, ACEH SELATAN, SINGKIL, KUTACANE, BLANG KEJEREN, GAYO LUES, BENER MERIAH, ACEH UTARA, ACEH TAMIANG, ACEH BESAR, ACEH TIMUR. ACEH bukan milik orang ACEH BESAR, BANDA ACEH dan PIDIE saja!!
bagaimana rasanya, bila kau mencoba berkomunikasi dengan bahasa ibumu, lalu orang lain tertawa, padahal kalau saja kau mau, kau juga bisa mentertawakan mereka, karena meracau tak tentu arah. karena itu aku marah!!
biar saja GAYO merdeka!! biar saja Singkil Merdeka!! tapi bukan berarti bahwa Tentara boleh berkuasa!!
orang kaya tak pernah melawan
hanya orang lapar yang memberontak
kita siapa?
Kamis, 17 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar