Kamis, 07 Februari 2008

suatu hari minggu di rumah kajhu

Sejak bulan Juni 2007, tidak ada lagi siaran jam 9 pagi di hari Minggu. ada perubahan program, supaya variatif tentu saja. supaya pendengar tak bosan, mendengar suara itu-itu saja. Alhamdulillah, ini berkah buatku yang sibuk sepanjang minggu, dengan bermacam kegiatan yang aku sendiri tak mampu menjelaskannya mengapa kulakukan. tetap sibuk adalah caraku melupakan keinginan hatiku untuk mati.

seperti biasa, kalau sedang tak punya agenda, aku akan bangun sesiang mungkin di hari minggu. tapi hari minggu kali ini aku terpaksa bangun pagi (jam 9 masih pagi kan?) apa pasal? Ninong adinda nomor 6, sibuk menggerutu, "mesin pompa air kita rusak lagi, ini pasti karena suci!" lalu suara Suci adinda nomor 8 menyahut, "Nyo..ka beutoi nyan, mandum salah nyak suci!" OMG! ada apa ini, cuma masalah mesin pompa air rusak dan ada yang mau nyuci, jadi perang kata.

"nona-nona cantik, jangan ribut lah, malu kita kalau soal sepele seperti itu, pecah perang saudara!" bentakku tak kalah keras suara. Ninong menatapku terluka, Suci membanting pintu kamar. aku coba menggulung diri lagi dalam selimut, hening sesaat. ahhh.. aku jadi curiga, jangan-jangan ini bukan sekedar soal mesin pompa air yang kembali rusak. Ninong masih mengomel dengan suara ditahan di dapur. "sedang apa, Nong?" aku berdiri dengan mata setengah terpejam, bersandar pada dinding dapur kami yang sempit. "gak lihat apa, orang sedang kerja?" katanya setengah membentak. "ga bisa lihat, ngga pakai kacamata ini" candaku. Ninong sedang memisahkan bawang merah yang sudah kering untuk dibuang dan yang masih bagus untuk disimpan. "ngga keluar hari ini?" tanyaku lagi. "Ngga, motornya dek Ichwan sedang rusak" jawabannya mulai lunak. "oh..ya, apakabar kalian?" aku menguap sejenak, bergeming dari dinding. "baik-baik saja" wajahnya mulai mengendur tak lagi memberenggut.

"kita keluar yok, beli Aqua galon atau es krim?" tawarku. "nanti saja, orang mau nyuci" balasnya ketus, waahh salah waktu lagi aku rupanya. "antar ke wak inen saja, aku yang bayarin" Ninong diam tak menjawab. kutinggalkan dia, sebentar lagi pasti dia sudah kembali seperti biasa. sekarang adinda seorang lagi, aku beranjak menuju kamarnya. Suci sedang tiduran menutup muka dengan sarungnya, kamar sangat berantakan, pakaian menggulung di setiap sudut ruang. "kenapa ini kamar seperti kapal pecah ci?" Suci diam tak menjawab, dia cuma menarik selimut dari wajahnya, tanpa membuka mata. "baunya... seperti..."kugantung kata. "bilang aja seperti rumah dan bau babi!" cetusnya dingin. aku tersenyum tipis, masih tetap suci yang sinis. "bangun... bersihin dulu nih.. ntar tidur lagi!" kulempar bantal ke wajahnya. "uuhh.. bantal kak cik nih yang bau babi!" serangnya tanpa ampun. "iyalaah... kan tak pernah dijemur" aku kembali melempar sebuah bantal lagi ke arahnya. Suci tertawa.

Suci membereskan kamar, Ninong merendam pakaian, setelah kutawarkan diri untuk membantunya menimba air dari sumur di belakang rumah. sampai siang, suasana tenang-tenang saja. tidurku bisa diteruskan sampai sore, sebelum aku pergi ke studio untuk siaran. tapi, sepertinya perlu juga untuk melihat-lihat isi lemari kayuku yang sarat buku, arsip dan majalah berdebu. aku mulai membongkari dan membersihkan lemari kayu di ruang depan. saat sedang memilah mana sampah dan mana harta karun, aku menemukan sebuah catatan lama. sebuah buku hijau kecil, berisi catatan kuliah, dari tahun 1997 rupanya. ada sebaris kata yang kutulis disela catatan Ilmu Kesehatan Ternak.

Sabtu, 10 Mei 1997
Aku sekarang seringan kapas
diterbangkan angin ke segala penjuru
mandah saja
ditariknya ke pusaran tak berujung
lalu dihempas ke puncak tanpa batas
aku sekarang seringan kapas

angan membawaku pada suatu waktu yang tak bisa kulupa. tapi bukan saatnya merindu disaat seperti ini. kulanjutkan pekerjaanku, sampai selesai dan debu-debu bersih dari semua buku dan permukaan lemari kayu (tentu saja sudutnya juga). dari dapur kudengar tawa dua adinda. ahhh... indahnya dunia bila mereka tertawa bersama.

Tidak ada komentar: