Kamis, 14 Februari 2008

Namaku Puan Cut - Ma

Ma memelukku sangat erat malam itu, tubuhnya bergetar, bukan menggigil kedinginan. kehangatan yang kurasakan lewat pelukannya kini berubah menjadi rasa gerah. di luar hujan turun sangat deras, angin menderu-deru ribut meningkahi suara air yang jatuh di bumbung rumah yang terbat dari seng. makin deras hujan, makin keras juga getaran dari tubuh Ma. aku menggeliat, hendak melepaskan diri. tapi Ma makin mengeratkan pelukannya. aku hampir-hampir tak bisa bernafas. kucengkeramkan jari-jariku ke lengannya dengan geram. Ma tersentak, melepaskan aku dan bangun dari tidurnya. matanya nyalang menatap sekeliling kamar kami yang sempit. dadanya turun naik, nafasnya terengah-engah seperti orang habis berlari keliling desa.

dalam cahaya kamar yang remang, mata Ma berkilat ketakutan, ia menatap pintu kamar yang tak berdaun seperti orang melihat hantu saja. kusentuh pundak Ma pelan, ia menoleh dan menatapku dengan pandangan asing, seolah ia tak mengenali darah dagingnya sendiri ini. aku tak berani bergerak, aku juga takut dengan reaksi Ma. nafas Ma mulai tenang, aku memberanikan diri tersenyum. Ma memicingkan matanya, lalu mulai memukuli dadanya dengan kedua tinjunya dengan cepat. tak ada suara keluar dari mulutnya. apa yang harus kulakukan? Ma seperti hendak menghancurkan tubuhnya sendiri. aku berteriak memohonnya berhenti, sambil menarik salah satu tangannya dengan tangan kecilku yang tak bertenaga. dan akupun terjengkang jatuh dari tempat tidur, terlontar dari genggamanku pada tangan Ma. kepalaku terantuk ke lantai dan menimbulkan suara yang tak kalah kerasnya dengan suara guruh di luar sana.

Ma kembali tersentak kaget, ia berhenti memukul dadanya dan dengan simbahan air mata diwajah cantiknya, ia turun dari ranjang untuk mengangkatku. "maaf, meutuwah.. maafkan Ma" bisiknya lembut diantara isakan. aku memeluknya erat, sakit di kepalaku seolah hilang. dia membaringkan aku kembali di ranjang dengan hat-hati, "mimpi Ma buruk sekali malam ini" katanya sambil menyelimuti aku. Ma lalu ikut berbaring disisiku, kami berhadapan, aku mengusap pipinya yang basah. sisa tangis tanpa suaranya masih ada. "meutuwah, kau tak perlu lagi menunggu Abu Nek Di-mu di depan sana" katanya sambil menggenggam tanganku. kenapa? apakah Abu Nek Di tidak boleh lagi menjengukku? apakah Nek Tu yang melarangnya? "Abu Nek Di sedang sakit" Ma lalu menepuk-nepuk lembut pantatku, seperti yang biasa ia lakukan kalau aku sudah mengantuk dan hendak tidur. tepukan-tepukan itu seperti nina bobo saja buatku. "sekarang kita tidur, supaya besok, kita tidak terlambat bangun untuk sembahyang subuh" aku mengangguk saja, tepukan lembutnya memang sudah membuaiku sejak tadi.

malam itu aku bermimpi, aku berada di sebuah rumah seperti rumah kami ini, tapi jauh lebih besar dan lebih indah. ... *kok ngantuk yaa?* ntar lagi siaran... huuuhh!


Minggu, 10 Februari 2008

Untuk Adik

Dear Adinda-adindaku tersayang,

sebagai kakanda, aku berharap kalian menjalani hidup yang indah, seindah yang bisa kalian bayangkan dimasa kecil dulu. tentu saja lebih indah daripada hidup yang kita lihat dalam tayangan di televisi, tentang keluarga kaya dengan kekuasaan tiada tara, sehingga untuk mencari jodoh saja mereka harus saling berebut. kalau kalian beranggapan bahwa apa yang kita jalani bersama ayahanda dan ibunda selama ini kurang memuaskan, maka berusahalah untuk membuatnya jadi lebih bermakna saja.

kukabarkan pada kalian, sungguh bahagia menjadi kakanda untuk 6 adinda yang mengagumkan seperti kalian. tidak ada satupun dari kalian yang benar-benar keluar dari jalur. bilapun ada salah satu atau dua dari kalian yang pernah membuat kecewa, sepertinya itu hanya bagian dari pertumbuhan kalian sebagai manusia. aku juga pernah melakukan hal serupa, meskipun sudah kucoba beritahukan agar kalian tidak melakukannya, tapi apalah dayaku? itu hidup kalian, pilihannya ada ditangan yang menjalani.


Namaku Puan Cut-Abu Nek Di

Jam 1 lewat 15 menit, aku sudah duduk dibangku dari bambu yang ditempatkan di sekeliling pohon mangga yang sudah mati sejak aku lahir, dengan dua gelas air putih, 15 menit lagi Abu Nek Di akan datang dengan sepeda tuanya. ini hari Jum'at, sepulang dari mesjid di pasar, Abu Nek Di pasti pulang lewat depan rumah kami, dan dia akan singgah untuk beristirahat sebentar. sejak 3 tahun lalu, saat Ma mulai mengizinkan aku menyambut ABu Nek Di sendiri dibawah pohon mangga itu, tak sehari jum'at pun kulewatkan. kalaupun Abu Nek Di tidak singgah, biasanya dia akan memberitahukan aku jum'at sebelumnya, karena ada hal yang harus diurusnya, atau dia merasa kurang sehat. kalaupun Abu Nek DI tidak datang karena ada orang yang meninggal di kampung, Ma yang akan memberitahukan.

Dari Jauh Sepeda kumbang tua setua Abu Nek Di berderit di jalanan depan rumah kami yang tak rata. Aku sudah berdiri di pintu pagar halaman kami dengan senang, aku melihat sebuah bungkusan tergantung di staang kiri sepeda, aku yakin sekali itu adalah Grieng kesukaanku. tapi sepertinya bukan cuma sebungkus saja, ada bungkus lainnya di staang sebelah kanan, untukku kah isi bungkusan itu? aahh.. nanti kutanya. sesaat kemudian, laki-laki tua berkulit legam itu menghentikan kayuhannya dan turun dengan tangkas dari sepedanya. "assalammualaikum, nyak cut" sapanya seperti biasa, yang kubalas dengan anggukan tanpa suara, lalu mulutku dengan susah payah menjawab salamnya seperti yang diajarkannya "wa'alaikumsalam Abu Nek Di" meskipun yang terdengar hanya ahh..uuhhh saja.lalu seperti biasa, dia mengulurkan tangannya, yang kusambut dengan genggaman erat dan membawanya ke pipiku. "meutuwah" begitu kata Abu Nek Di sambil mengelus kepalaku dengan tangan kanannya yang kurus.

Abu Nek Di hari ini tidak mengenakan sarung seperti biasanya, tapi celana panjang berwarna hitam, masih baru dan mengkilap. "sehat kah engkau anak manis?" tanyanya dengan ramah. aku mengangguk, mataku melirik kepada dua bungkusan di staang sepedanya. Abu Nek Di tersenyum, dia mendorong sepedanya dan disandarkannya di bagian dalam pagar yang terbuat dari rumpun teh. aku menunggu Abu Nek Di dibangku bambu, kuperhatikan dia mengambil bungkusan Grieng dari staang kiri, dan juga bungkusan satunya dari staang kanan. "Ma dimana?" tanyanya padaku sambil menyerahkan salah satu bungkusan itu. aku menunjuk ke rumah. "tunggu sebentar disini ya, Abu Nek mau jumpa Ma dulu" aku mengangguk, kubuka bungkusan Grieng dan mengambilnya satu, lalu memakan dengan pelan sambil memperhatikan Abu Nek Di naik tangga rumah kami dengan hati-hati.

Abu Nek Di kembali menemuiku setelah bicara sebentar pada Ma, dia menyerahkan bungkusan yang dibawanya tadi kepada Ma. "mana air untuk Abu Nek?" mintanya setelah duduk disampingku. aku menghentikan makan grieng, lalu mengangkat gelas besar berisi air putih matang untuknya. Abu Nek Di menyeruput airnya dengan tenang, setelah mengucapkan bismillah dan mengakhirinya dengan Alhamdulillah. "hari ini, Abu Nek pergi ke Mesjid At Taubah, kampung Abu Chik-mu" aku menatapnya heran. kenapa Abu Nek Di pergi sejauh itu untuk Shalat Jum'at saja? seperti tahu apa yang kupikirkan, Abu Nek Di menjawab tenang, "Abu Chik-mu meminta Abu Nek menjadi Imam hari ini, karena ada tamu dari Banda Aceh, entah siapa namanya, Abu Nek tak ingat lagi, tapi kata Abu Chik, dia adalah seorang pejabat penting". pejabat penting? aku sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan Abu Nek Di. biasanya Abu Nek Di hanya bercerita tentang hikayat kancil dan harimau, banta seudang, malem diwa atau perjuangan tengku di coet plieng melawan belanda, dan kelihaian Cut Nyak Meutia mengecoh Belanda. "pejabat penting itu orang yang mengurus nanggroe ini Nyak Cut, lebih banyak kerjanya daripada Geuchik Man atau Abu Chik-mu" tambah Abu Nek. "setelah selesai shalat Jum'at tadi, Abu Chikmu memberiku uang, seratus ribu", aku membelalak, banyak sekali uang Abu Chik? padahal ketika minggu lalu dia datang menjengukku, dan Ma meminta uang sepuluh ribu untuk membeli obat batuk, Abu Chik malah membentaknya dan menyuruh Ma minum air jeruk nipis campur kecap saja.

"Nyak Cut, apakah kau tak mau pergi ke rumah Abu Nek Di?" tanyanya sambil membersihkan ceceran Grieng disekitar mulutku. aku menggeleng dengan tegas, aku tak boleh keluar dari pekarangan rumah kami, itu yang selalu kuingat. Ma dan Abu Chik yang mengatakannya."apakah kau tidak mau bertemu Nek Tu?" kali ini aku mengangguk dengan antusias. "kenapa Abu Nek tidak mengajak Nek Tu ke mari?" aku yakin sekali Abu Nek Di paham apa yang kupikirkan, kami sudah berlatih itu sejak bertahun-tahun lalu. "Nek Tu-mu tak sanggup lagi duduk di sepeda tuaku, dia juga hanya berbaring saja sepanjang hari" jelas Abu Nek Di. "seharusnya Abu Chik dan Ma-mu tak mengurungmu di tempat ini, kau berhak untuk menikmati masa kecilmu, bertemu dengan keluargamu yang lain", laki-laki tua itu berkata dengan nada murung. aku mengerenyitkan dahi, sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan Abu Nek Di, Abu Chik dan Ma tidak mengurungku seperti aku mengurung si Muntui, ayam jago kesayanganku dikandangnya agar tidak dikejar oleh anjingnya Wak Ron, pemilik kebun coklat yang luas dibelakang pekarangan rumah kami yang tak luas ini.

"mungkin ini balasannya atas perbuatanku dulu terhadap Cut Nuriman, Mi Chik-mu?" Abu Nek Di mengeluh, matanya berkaca-kaca. aku pernah mendengar cerita tentang kekejaman Abu Nek Di terhadap Almarhum Mi Chik, dari Apa Yus, anak Wak Incah, ketika dulu dia sering datang untuk membantu Ma membangun kandang ayamku. "maafkan Abu Nek ini Nyak Cut!" Abu Nek Di memelukku dengan erat, air matanya bercucuran, dengan bingung aku membalas pelukannya dan ikut menangis. aku membayangkan bagaimana Mi Chik dikurung dalam kamarnya sendiri selama berbulan-bulan, kakinya dipasung agar dia tak bisa keluar untuk menemui Abu Chik. tidak ada seorangpun yang boleh menemuinya, kecuali Abu Nek Di, Nek Tu dan Wak Incah kawan karibnya.

Abu Nek Di mengurai pelukannya, "jangan menangis Nyak Cut, Maafkan Abu Nek-mu ini" ia menghapus air mataku lalu air matanya dengan saputangan berwarna biru lusuh. aku mengangguk patuh. "nyak cut" Abu Nek Di menatap mataku dalam-dalam. "kau sangat cantik, sangat mirip Mi Chik-mu, karena itu aku menyayangimu melebihi sayangku pada siapapun, kecuali Allah dan Rasulullah tentu saja" katanya kemudian. aku mengangguk senang "aku juga sayang pada Abu Nek Di, melebihi sayangku pada Abu Chik, kecuali Allah, Rasulullah dan Ma tentu saja" Abu Nek Di terkekeh, entah apa yang ditertawakannya. "sudah sore, Abu Nek harus pulang, nanti hari minggu Abu Nek akan datang lagi, ya?" aku tertawa, hari minggu? dua hari lagi, Abu Nek Di akan datang lagi, pasti ada sesuatu yang akan dibawanya, atau ada hikayat baru yang akan diceritakannya padaku. tentu saja aku akan sangat senang menunggunya. Abu Nek Di lalu mencium keningku, menjulurkan tangannya ke genggamanku untuk kusambut dan kubawa ke pipi. "meutuwah" pujian terindah darinya yang selalu kunanti.

bersambung...

Kamis, 07 Februari 2008

suatu hari minggu di rumah kajhu

Sejak bulan Juni 2007, tidak ada lagi siaran jam 9 pagi di hari Minggu. ada perubahan program, supaya variatif tentu saja. supaya pendengar tak bosan, mendengar suara itu-itu saja. Alhamdulillah, ini berkah buatku yang sibuk sepanjang minggu, dengan bermacam kegiatan yang aku sendiri tak mampu menjelaskannya mengapa kulakukan. tetap sibuk adalah caraku melupakan keinginan hatiku untuk mati.

seperti biasa, kalau sedang tak punya agenda, aku akan bangun sesiang mungkin di hari minggu. tapi hari minggu kali ini aku terpaksa bangun pagi (jam 9 masih pagi kan?) apa pasal? Ninong adinda nomor 6, sibuk menggerutu, "mesin pompa air kita rusak lagi, ini pasti karena suci!" lalu suara Suci adinda nomor 8 menyahut, "Nyo..ka beutoi nyan, mandum salah nyak suci!" OMG! ada apa ini, cuma masalah mesin pompa air rusak dan ada yang mau nyuci, jadi perang kata.

"nona-nona cantik, jangan ribut lah, malu kita kalau soal sepele seperti itu, pecah perang saudara!" bentakku tak kalah keras suara. Ninong menatapku terluka, Suci membanting pintu kamar. aku coba menggulung diri lagi dalam selimut, hening sesaat. ahhh.. aku jadi curiga, jangan-jangan ini bukan sekedar soal mesin pompa air yang kembali rusak. Ninong masih mengomel dengan suara ditahan di dapur. "sedang apa, Nong?" aku berdiri dengan mata setengah terpejam, bersandar pada dinding dapur kami yang sempit. "gak lihat apa, orang sedang kerja?" katanya setengah membentak. "ga bisa lihat, ngga pakai kacamata ini" candaku. Ninong sedang memisahkan bawang merah yang sudah kering untuk dibuang dan yang masih bagus untuk disimpan. "ngga keluar hari ini?" tanyaku lagi. "Ngga, motornya dek Ichwan sedang rusak" jawabannya mulai lunak. "oh..ya, apakabar kalian?" aku menguap sejenak, bergeming dari dinding. "baik-baik saja" wajahnya mulai mengendur tak lagi memberenggut.

"kita keluar yok, beli Aqua galon atau es krim?" tawarku. "nanti saja, orang mau nyuci" balasnya ketus, waahh salah waktu lagi aku rupanya. "antar ke wak inen saja, aku yang bayarin" Ninong diam tak menjawab. kutinggalkan dia, sebentar lagi pasti dia sudah kembali seperti biasa. sekarang adinda seorang lagi, aku beranjak menuju kamarnya. Suci sedang tiduran menutup muka dengan sarungnya, kamar sangat berantakan, pakaian menggulung di setiap sudut ruang. "kenapa ini kamar seperti kapal pecah ci?" Suci diam tak menjawab, dia cuma menarik selimut dari wajahnya, tanpa membuka mata. "baunya... seperti..."kugantung kata. "bilang aja seperti rumah dan bau babi!" cetusnya dingin. aku tersenyum tipis, masih tetap suci yang sinis. "bangun... bersihin dulu nih.. ntar tidur lagi!" kulempar bantal ke wajahnya. "uuhh.. bantal kak cik nih yang bau babi!" serangnya tanpa ampun. "iyalaah... kan tak pernah dijemur" aku kembali melempar sebuah bantal lagi ke arahnya. Suci tertawa.

Suci membereskan kamar, Ninong merendam pakaian, setelah kutawarkan diri untuk membantunya menimba air dari sumur di belakang rumah. sampai siang, suasana tenang-tenang saja. tidurku bisa diteruskan sampai sore, sebelum aku pergi ke studio untuk siaran. tapi, sepertinya perlu juga untuk melihat-lihat isi lemari kayuku yang sarat buku, arsip dan majalah berdebu. aku mulai membongkari dan membersihkan lemari kayu di ruang depan. saat sedang memilah mana sampah dan mana harta karun, aku menemukan sebuah catatan lama. sebuah buku hijau kecil, berisi catatan kuliah, dari tahun 1997 rupanya. ada sebaris kata yang kutulis disela catatan Ilmu Kesehatan Ternak.

Sabtu, 10 Mei 1997
Aku sekarang seringan kapas
diterbangkan angin ke segala penjuru
mandah saja
ditariknya ke pusaran tak berujung
lalu dihempas ke puncak tanpa batas
aku sekarang seringan kapas

angan membawaku pada suatu waktu yang tak bisa kulupa. tapi bukan saatnya merindu disaat seperti ini. kulanjutkan pekerjaanku, sampai selesai dan debu-debu bersih dari semua buku dan permukaan lemari kayu (tentu saja sudutnya juga). dari dapur kudengar tawa dua adinda. ahhh... indahnya dunia bila mereka tertawa bersama.

keluhku

pada awan-awan berarak di kebiruan angkasa
kurapalkan bait-bait kebencian pada gemerlap kebohongan
yang tak pernah punya jeda sekejap
terus baluriku dengan puing-puing retak nestapa
karena awan adalah lambang ketidak pedulian
marak sesaat memburai hilang dalam lintas kala
karena awan adalah pertanda kebekuan
menyatukan titik-titik keabadian pada semesta basah

dan pada ombak gelombang samudera tenang dan garang
kukeluhkan lara menerpa raga dan rasa
yang senantiasa setia kembali dalam peluk sang pantai
dibawah lambaian gemulai sang nyiur
diantara karang-karang tajam pelindung angkuh
kesabarannya adalah pasrah
karena ombak adalah jalan hidup
karena gelombang adalah tantangan tak berirama
tak ada henti
tak punya nada dan biru pasti
dan tujunya adalah bukan akhir

keluh bait-bait kepedihan tak kan berhenti
tujunya bukan akhir perjalanan cita
rapal bait-bait kesakitan tak kan berakhir
walau laut, langit adalah biru yang dicari

untuk Norma

seorang perempuan
tak lunak pada pengkhianatan
tak memaafkan dimulut saja
meski dada telah terluka
mata menyimpan gejolak
canda menyelamatkan murka
tak meledak

ingat diri

tengadah pada langit malam
biru hitam menelan badan
dalam diam bintang melayang
lumpuh rasa tak berbayang
ini aku si jahanam
tunduk berserah di hadapan Tuan
kaki, tangan, leher... patahlah!
darah, empedu, keringlah!
sebutir zarrah
aku pasrah
raga, lama tlah mengaku diri
lelah hidup dengan jiwa mati
tak guna sembunyi
dari dosa sendiri
nyala api di langit
janjikan nyata, kala merasa sempit
ada kemudahan
setelah berkubang kesulitan

iyya qana' budu wa iyya qanasta'in

Rabu, 06 Februari 2008

maaf, aku tak tahu..

sungguh,
kusangka engkau berpaling hati
lelah mendengar hanya keluh
perempuan yang menanti
kumaafkan,
rupanya kau terlelap
demam kehujanan
janjipun terabaikan

pilu,
sesalku enggan menunggu
penjelasan sebab akibat
terlanjur membangun sekat
sudikah?
ulurkan lagi tangan hangat
menepis resah
sebelum terlambat

for you D. smoga selalu sehat!
miss you so much

Senin, 04 Februari 2008

mantra cinta

pertama... saya baca mantra cinta
kau alif aku ba
tunduk pada semesta
lalu datang malaikat mikail
memberi kecupan di ujung mata
wajahmu memerah petanda suka
aahhhh....
ada iblis jahil
aku nun kau ya
banjir air mata seluruh dunia
aha.aha..aha
saya senang luar biasa...
ini ruang milik saya
sayalah penguasa
terima kasih Tuhan karena beri saya nyawa
kelayapan bukan hanya di dunia nyata
menggerayang hingga lupa usia
sampai akhirnya saya percaya
aku shad kau tha

040208-chatt gila

akan ku cari

pagi..pagi... mendung disini... aku tak hendak bermimpi, sudah kukecup embun sudah kubaui harum angin...
jangan.. usah lihat langit pagi ini...
aku tak hendak bermimpi..lagi

ini pagi, aku sedang bersiap lari.. mengejar waktu yang tak menunggu
sekarang atau nanti.... apa kita pernah tahu?
cukup kau tahu....
Aku sudah menunggu, tapi tak bisa lebih lama lagi
maka aku melangkah
meski di sudut mana bumi kau sembunyi...aku cari

12 Dec 2007

sekali lagi

aku tanya kau sekali lagi,
masih cukupkah energi mu?
sebelum kita sepakat untuk berlari
menjauh dan menepi...
ini arus terlalu kuat
kita tak berpegang

sebelum kita sama berhenti
pikirkan lagi, beranikah engkau sendiri
itu masa depan memang misteri
apa tak sebaiknya kita jalani saja detik berlalu
diam-diam... tak usah melawan

..................someone ask... Or What?

aku bungkam.. lalu sepi
arus melarungkan semangat
tanya berganti alamat
jawab atau mati!

2007

itu tahun sudah lewat
separuh janji sudah menyata
tapi rasa belum indah tertata
jarak nan jauh tak sanggup kulipat

31 Dec, 2007

GB - mpku

ciciatjeh
wrote on Jan 24

lihat aku!
tak mampu lupakamu
karena laju waktu berhenti
ketika aku lalai memberi

lihat langit!
tak adaelangi pagi
ini mendung tersesat
hujan tak turun di sini

190108-- 01:31
tapaktuan

Puisi hati

I
dengar,
gerak angin di antara tiang besi
di sepanjang jalan kota
pagi, saat matahari belum tinggi
katamu, indahnya awal hari ini
sudahlah...
aku tak akan tanya mengapa?
atau menunggumu menduga sebabnya
sama saja..
cuma kata-kata orang lelah berjaga

Indah atau tidaknya awal hari
adalah caramu mensyukuri
teman atau musuh kah, matahari
dan seberapa tinggi batas mimpi

once a rainy day
130108-pfm

II
seperti asap pembakaran sampah pagi itu
menyerbu masuk tanpa penghalang
membuat dada sesak
udara... di mana udara
kau dan asalmu dibicarakan sepanjang waktu
tak bisa kutentang
aneh, aku tak muak
bicara...teruskan bicara

ttg kotamu - ttg kotaku
petro dollar hampir mati
040208- 07:47 AM

III
aku mendengar namamu lagi
disebut berulang kali
mengisi setiap senti ruang otak
meremas ujung benak
ada apa...?
mengapa..?
inikah petanda kebangkitan
sebuah kota lama yang terlupakan?

-2kota2hati2matahari-